News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Efisiensi Tidak Boleh Hanya Berlaku untuk Pekerja

Editor: Eko Sutriyanto
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

EFIENSI BELANJA - Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok saat konferensi pers dan kunjungan media ke JICT, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Presiden Republik Indonesia melalui Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025 telah memberikan pesan yang sangat jelas kepada seluruh institusi negara dan BUMN: lakukan efisiensi belanja dan perkuat disiplin penggunaan anggaran

Yang lebih berbahaya adalah munculnya persepsi ketidakadilan di internal perusahaan. Di satu sisi pekerja diminta menekan biaya, meningkatkan produktivitas, dan menerima berbagai penyesuaian efisiensi. Namun di sisi lain, elite perusahaan masih terlihat menjalankan pola pengeluaran yang dianggap longgar.

Dalam jangka panjang, kondisi seperti ini dapat merusak moral organisasi. Efisiensi akhirnya dipersepsikan bukan sebagai gerakan bersama, melainkan hanya beban yang diturunkan ke level bawah.

Padahal dalam tata kelola yang sehat, penghematan seharusnya dimulai dari level kepemimpinan.

BUMN perlu membangun sistem evaluasi perjalanan dinas yang lebih modern dan terukur. Misalnya melalui pembatasan frekuensi, kewajiban laporan output yang terukur, digitalisasi rapat internal, audit efektivitas biaya perjalanan, hingga keterbukaan indikator manfaat bisnis.

Sebab inti dari efisiensi bukan sekadar mengurangi angka pengeluaran. Intinya adalah memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar memberikan nilai tambah bagi perusahaan dan negara.

Jika efisiensi hanya berlaku bagi pekerja sementara elite tetap hidup dalam pola biaya yang longgar, maka yang lahir bukanlah reformasi tata kelola, melainkan rasa ketidakadilan.

Dan dalam organisasi apa pun, ketidakadilan adalah biaya sosial yang jauh lebih mahal daripada tiket perjalanan dinas itu sendiri.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini