News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Tribunners

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email: redaksi@tribunnews.com.

Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Deep Learning ‘Sepatu Lama dalam Kardus Baru’

Editor: Facundo Chrysnha Pradipha
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI BELAJAR - Siswa kelas VII SMP N 9 Semarang sedang mengikuti proses belajar tatap muka di minggu terakhir sebelum libur Hari Raya Idul Fitri, Selasa (4/5/21). Istilah deep learning menjadi topik hangat untuk diperbincangkan dalam ruang diskusi publik.

Sayangnya, dinamika komunikasi publik yang kurang utuh di awal pengenalannya di Kurikulum Merdeka sempat memicu disinformasi. Banyak orang menganggap deep learning adalah sebuah kurikulum baru yang menggantikan kebijakan sebelumnya. Padahal ia hanyalah sebuah pendekatan untuk meningkatkan proses dan kualitas pembelajaran.

Oleh karena itu, penting bagi semua pihak, khususnya kalangan pendidikan dan pemangku kebijakan untuk tidak terjebak pada sekadar istilah tren atau jargon semata. Karena keberhasilan implementasi deep learning dalam pembelajaran tidak diukur dari seberapa fasih insan pendidikan melafalkan konsep tersebut. Ada proses yang jauh lebih esensial untuk dipahami, dilaksanakan, dan diwujudkan dalam ruang kelas kita.

Guru seyogyanya mampu merancang interaksi kelas yang benar-benar memantik rasa ingin tahu, keterlibatan aktif dan bermakna bagi siswa.

Ingat, pendekatan ini berakar pada prinsip pembelajaran esensial yang secara kognitif maupun empiris telah diuji.

Maka sangat mungkin, pembelajaran berbasis mindful, meaningful, dan joyful learning telah guru terapkan di ruang kalas, jauh sebelum istilah deep learning populer. 

(*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini