News

Bisnis

Super Skor

Sport

Seleb

Lifestyle

Travel

Lifestyle

Tribunners

Video

Tribunners

Kilas Kementerian

Images

Sabtu-Minggu Libur: Hak atau Warisan dari Perjuangan Panjang?

Penulis: Matheus Elmerio Manalu
Editor: Content Writer
AA

Text Sizes

Medium

Large

Larger

ILUSTRASI BEKERJA - Ilustrasi pekerja yang harus beraktivitas dari Senin hingga Jumat. Simak perjuangan panjang hingga akhirnya sekarang bisa menikmati akhir pekan dengan tenang.

TRIBUNNEWS.COM - Pernahkah kamu merasa baru ‘bisa bernapas’ lega ketika jarum jam menunjukkan pukul 17.00 di hari Jumat? Ya, itu tandanya akhir pekan telah tiba dan saatnya untuk kembali menjaga kewarasan diri setelah sibuk bekerja dari Senin hingga Jumat. 

Akhir pekan, Sabtu dan Minggu, seringkali menjadi dua hari di mana kita beristirahat sejenak dari tumpukan deadline dan rapat yang tak berujung. Namun, banyak dari para pekerja menganggap akhir pekan memang sudah menjadi hak yang datang begitu saja dari langit. 

Tapi, tahukah kamu, bahwa ‘akhir pekan’ yang kita nikmati setelah lima hari bekerja, lahir dari perjuangan para pejuang buruh di seluruh dunia? Bahkan, Sabtu dan Minggu tidak bekerja sempat dianggap sebuah ‘barang ilegal’ di dunia kerja. 

Kamu bisa mematikan laptop di hari Jumat, rebahan seharian di hari Sabtu, jalan-jalan bersama keluarga di hari Minggu, adalah hasil dari perjuangan, protes massa yang mencekam, hingga air mata anak-anak yang masa kecilnya habis tergilas roda mesin industri. 

Ketika Anak Kecil harus Bekerja hingga 80 Jam Seminggu

Pada awal abad ke-20, dunia belum mengenal batas waktu kerja. Berdasarkan data dari U.S. Bureau of Labor Statistics menunjukkan rata-rata pekerja manufaktur menghabiskan 60 hingga 80 jam seminggu di dalam pabrik. 

Kondisi yang paling memprihatinkan dapat ditemukan dalam arsip Library of Congress. Di sana, tersimpan bukti foto dari fotografer Lewis Hine yang mendokumentasikan anak-anak berusia sekitar 10 tahun bekerja di tambang batu bara dan pabrik tekstil selama 14 jam sehari.

Jemari kecil mereka yang seharusnya memegang pensil, belajar atau bermain justru harus dipaksa bekerja mencabut pintalan benang di antara mesin-mesin besar yang bising dan berbahaya. 

Di Massachusetts, pekerja rumah tangga bahkan bekerja hingga 83 jam seminggu dengan upah hanya 9 sen per jam atau sekitar Rp1.500 (dengan kurs 1 USD setara Rp16.905). 

Manusia saat itu tidak dianggap sebagai individu, melainkan sekadar bahan bakar bagi mesin-mesin yang tidak pernah boleh berhenti berputar.

Gema 8-8-8 dan Tragedi Haymarket

Di tengah kegelapan eksploitasi tersebut, muncul seorang reformis asal Wales bernama Robert Owen. Dikutip dari situs Robert Owen Museum, ia adalah orang pertama yang membayangkan pembagian waktu hidup manusia secara adil melalui slogan radikal 8-8-8, yang artinya: "Delapan jam kerja, delapan jam rekreasi, delapan jam istirahat”.

Mantra ini kemudian membakar semangat para buruh di seluruh dunia, puncaknya terjadi di Chicago pada 1 Mei 1886. Ribuan buruh melakukan mogok kerja massal menuntut hak "8 jam kerja". 

Aksi ini berubah menjadi horor dalam peristiwa yang dikenal sebagai Tragedi Haymarket. Sebuah ledakan bom dan bentrokan dengan polisi yang menyebabkan kematian banyak orang. 

Meski gerakan buruh sempat terpukul mundur, pengorbanan mereka menjadi cikal bakal peringatan yang masih dirayakan sampai hari ini, yakni Hari Buruh Internasional.

Perubahan besar secara struktural justru datang dari sudut pandang ekonomi yang tak terduga. Dikutip dari history.com, pada tahun 1926, raja otomotif Henry Ford memutuskan untuk menerapkan sistem 5 hari kerja (40 jam seminggu) bagi karyawannya. 

Motivasi Ford bukan sekadar kemanusiaan, melainkan strategi bisnis yang jenius. Ford sadar bahwa jika karyawannya tidak punya waktu luang, mereka tidak akan pernah membeli dan menggunakan mobil buatannya untuk berjalan-jalan. 

Halaman
12
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!

Berita Populer

Berita Terkini