Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
ABC World

Kisah Edy Triyanto, Pria Blitar yang Jadi Kepala Koki Restoran di Darwin

Restoran Tim\'s Surf and Turf yang cukup ternama berdiri di pusat Kota Darwin. Nama head chef alias kepala koki yang dituliskan dalam…

Tribun X Baca tanpa iklan

Suatu hari pada tahun 2008, head chef di restoran tempat Edy bekerja mengundurkan diri. Pemilik restoran pun tanpa pikir panjang menunjuk Edy sebagai head chef. Namanya pun langsung dipajang di papan nama restoran.

"Sejak 2008 itu nama saya sudah ditulis di depan sebagai head chef. Sampai sekarang saya punya tiga juru masak," tuturnya.

Mempunya tiga anak buah, bagi Edy ada keuntungan dan kelemahannya. Keuntungannya karena dia bisa belajar dari anak buahnya yang berasal dari negara lain, sehingga pasti memiliki pengetahuan baru soal masakan. Sedangkan kelemahan yang awalnya harus dia hadapi adalah kendala bahasa.

Kini, sudah 8 tahun Edy menjadi head chef. Dia mulai bekerja pukul 17.00-22.00. Restorannya memang hanya buka pada jam makan malam.

edy triyanto.jpg
Koki Edy Triyanto di sedang bekerja di dapur restoran Tim's Surf and Turf. (Foto: Ikhwanul Khabibi).

Kandas Masuk Polri, Jadi Tukang Cuci hingga Chef

Chef Edy Triyanto tengah menikmati puncak kariernya sebagai head chef di salah satu restoran ternama di Darwin. Namun, Edy tak akan pernah melupakan jalan hidup yang harus dilalui untuk bisa mencapai posisi saat ini.

Saat ditemui Mei 2016 lalu, Edy berbagi kisah hidupnya. Dia ingat betul perjuangan berat yang harus dilalui semasa muda.

Edy lahir dan besar di Blitar, Jawa Timur. Sejak lahir pada 13 Mei 1978, hingga lulus STM, Edy tinggal di Blitar. Selepas STM, Edy muda bercita-cita ingin menjadi seorang polisi. Dia pun mendaftar ke Akademi Kepolisian (Akpol), namun tidak diterima.

Rekomendasi Untuk Anda

"Saya gagal menjadi polisi, akhirnya saya pergi ke Bali untuk bekerja. Saya bekerja sebagai penjahit, padahal STM saya jurusan mesin," kata Edy mengenang masa mudanya.

Di Bali, Edy bekerja sebagai penjahit dan pekerjaan itu dijalaninya selama bertahun-tahun. Hingga akhirnya dia mengenal seseorang dari Australia.

"Akhirnya setelah itu saya memutuskan untuk pergi ke Darwin untuk kuliah. Saat itu saya ambil jurusan hospitality dan semua biaya saya tanggung sendiri," jelasnya.

Sesampainya di Darwin, perjuangan Edy semakin berat. Biaya kuliah dan biaya hidup yang tinggi di Darwin membuatnya harus membanting tulang agar bisa bertahan hidup dan terus menuntut ilmu.

"Di sini saya cari tempat tinggal paling murah, lalu juga kerja sampingan jadi cleaning service. Agar bisa tetap kuliah saya sehari bisa kerja di 3 tempat. Jadi saya kerja sampai subuh," ungkapnya.

Perjuangan hidup yang berat dijalani Edy selama beberapa tahun. Sebagai petugas cleaning service, dia harus menuntaskan pekerjaannya saat subuh tiba, di pagi harinya Edy tetap harus berkuliah. Hampir tak ada waktu istirahat bagi Edy.

Hingga pada suatu ketika, Edy melamar kerja di Restoran Tim\'s Surf and Turf sebagai seorang pencuci piring. Beberapa waktu berjalan, Edy tetap masih menjadi cleaning service, sehingga saat pekerjaan di restoran selesai, dia berpindah ke kantor lain untuk menjadi cleaning service.

Di restoran tersebut ternyata Edy menemukan jalan hidup. Dia mulai belajar memasak di restoran itu di samping dia juga belajar memasak di kampus. Beberapa tahun menjadi tukang cuci piring, Edy akhirnya \'naik pangkat\' dan diperbolehkan memulai memasak.

Halaman 2/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas