Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
ABC World

Telur Ayam ‘Free-Range’ Vs ‘Pastured’, Apa Bedanya?

Di tengah pertempuran telur ayam yang dibiakkan secara bebas (free-range) melawan telur ayam yang dibiakkan di gudang (barn-laid)…

Tayang:
Baca & Ambil Poin

Di tengah pertempuran telur ayam yang biakkan secara bebas (free-range) melawan telur ayam yang dibiakkan di gudang (barn-laid) melawan telur ayam yang dikandangkan (caged), kategori baru dari telur telah muncul –yakni telur ayam yang dibiakkan di padang rumput (pastured).

Para produsen di seluruh Australia telah mendapat celah pasar untuk telur ‘pastured’, yang berasal dari ayam yang menghabiskan waktu mereka di padang rumput dan bertengger di mobil van, dengan dengan kepadatan ternak yang lebih rendah dari persyaratan telur ‘free-range’.

Para peternak mengatakan, kebingungan atas apa yang disebut telur ‘free-range’ memungkinkan telur ‘pastured’ untuk berkembang.

Ayam Merumput di Manjimup
Charlie beternak ayam dengan kepadatan rendah di propertinya yang terletak di Manjimup.

ABC Rural; Anthony Pancia

Peternak telur ‘pastured’ di Australia Barat, Colleen dan Charlie Roberts, memasuki pasar telur ‘pastured’ tiga tahun lalu dengan hanya 125 ekor ayam.

Bibit itu telah berkembang menjadi 2.500 ekor ayam, merumput di atas lahan 70 hektar di barat daya negara negara bagian ini.

Ayam-ayam itu memproduksi 2.000 telur sehari, yang menurut Charlie masih belum cukup untuk bersaing dengan permintaan, meskipun telur ini menarik harga premium.

Rekomendasi Untuk Anda

"Butuh sedikit waktu untuk pasar agar merespon, tapi sekarang kami tak bisa memproduksi dengan cukup," kata Charlie Roberts.

"Pasar telah mengakui kualitas dan integritas dari telur ‘pastured’, yang sesuai dengan peningkatan permintaan akan transparansi dari konsumen," jelasnya.

Ayam mengonsumsi pakan tradisional yang bernutrisi

Produsen telur ‘pastured’ asal negara bagian Victoria, Kate Rothacker, berternak 800 ayam di sebuah lahan 80 hektar di Lembah Plenty.

Ia mengatakan, keberhasilan yang stabil dari telur ‘pastured’ sesuai dengan pertumbuhan pasar peternak lokal.

"Masyarakat hanya ingin tahu dan sangat tertarik tentang dari mana makanan mereka berasal, dan dengan peternakan telur ‘pastured’, mereka bisa melihat ayam itu merumput, mengonsumsi makanan tradisional yang sangat bergizi," jelas Kate Rothacker.

"Begitu mereka memiliki pemahaman tentang hal itu, membayar premi kecil untuk produk peternakan yang ramah lingkungan tak terlalu menjadi masalah." imbuhnya.

Kepadatan ternak lebih rendah dari telur ‘free-range\'

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas