Pengalaman Menjalani Bedanya Kuliah di Indonesia dan Australia
Bernike Jacinta Effendi saat ini sedang melanjutkan kuliah di University of Queensland di Brisbane. Dia awalnya adalah mahasiswa internasional…
Sebagai salah satu anggota world class university, UQ memang menyediakan banyak sekali fasilitas pembelajaran online yang sangat mudah dan cepat diakses darimanapun. Hal ini sangat menunjang studi kami, apalagi saat ada mahasiswa tidak bisa selalu datang ke kampus karena memiliki disabilitas secara mental atau fisik.
Saya selalu ingat momen saat saya menghadiri kelas pertama saya di UQ.
Saat saya masuk ke kelas bersama dengan teman-teman dari Indonesia, saya berpikir, “Kok sepi sekali kelasnya? Mahasiswa yang lain ke mana ya?”
Setelah mendengar penjelasan dosen bahwa lecture recording selalu diupload ke situs Blackboard UQ setelah kelas tersebut selesai, saya baru mengerti kenapa terkadang kelas perkuliahan tidak sepenuh di Indonesia.
Selain itu, saya secara pribadi merasa bahwa tutor di UQ jauh lebih tegas dan jelas dalam memberi nilai. Di Australia, tugas dan ujian biasanya dievaluasi oleh tutor.
Posisi tutor biasanya diisi oleh mahasiswa S2 atau S3 yang sedang menyelesaikan pendidikannya di UQ.
Tutor akan selalu menulis feedback di setiap bagian tugas mengenai aspek yang harus diperbaiki dan aspek yang sudah sesuai dengan kriteria penilaian yang ada .
Setiap mahasiswa pun memiliki hak untuk berkonsultasi akan nilai yang ia terima, bagaimana cara mengerjakan tugas, dan tips untu bisa mendapat nilai yang baik di ujian tengah semester atau akhir kepada tutor tersebut.
Bila saya harus memilih, saya pribadi lebih menyukai atmosfir belajar yang lebih tenang, santai, dan sangat encouraging di Australia.
Saya begitu kaget dan kagum dengan betapa ramah dan bersahabat setiap dosen dan tutor yang pernah dan sedang mengajar saya.
Saya pribadi tidak pernah merasakan bahwa mereka merendahkan kami karena mereka memiliki kualifikasi yang lebih tinggi daripada kami.
Suasana kuliah dan tutor pun biasanya santai dan terkadang saya sendiri merasa bahwa status kami sama yakni menjadi seorang pembelajar. Saya sendiri merasa bahwa setiap staff pengajar UQ yang mengajar saya menempatkan diri sebagai pembelajar yang ingin belajar bersama dengan kami.
Beberapa tutor sendiri pernah menyelipkan lelucon dalam bentuk video atau gambar lucu dan juga memberikan kami cokelat Freddo di kelas untuk menurunkan tingkat stress kami, terutama saat deadlines tugas-tugas mulai muncul di pertengahan dan akhir semester.
Namun, seperti yang kita tahu, tidak ada sistem yang sempurna.

Baca tanpa iklan