Kolaborasi Ananda Sukarlan Dengan Musisi Aborijin
Bulan Juli lalu, komposer dan pianis Indonesia, Ananda Sukarlan, melakukan lawatan ke komunitas Yolngu, di North East Arnhem Land,…
Sebuah pengalaman baru untuk Ananda, menciptakan musik yang hanya fokus ke ritme, tekstur, dan mengabaikan melodi sekaligus lirik.
“Namanya pun songline, bahasa Inggris-nya songline itu bukan melodi, bahwa kata-kata itu tidak begitu penting. Yang penting adalah bunyinya, fonetiknya bukan artinya,” ujarnya sembari menjelaskan pengertian songline yang berbeda dari lagu dalam bahasa Indonesia.
Ia lantas menceritakan, karya kolaborasi ini akan berdurasi sepanjang 25 menit dengan 7 menit pertama berisikan musik-musik yang berhubungan dengan Makassar.
“Point of departure-nya itu dari lagu Makassar yang namanya Ammaciang. Itu lagu cinta Makassar di mana bahwa cinta itu, samudera-pun akan kuarungi untuk menemukan keindahanmu. Jadi kebetulan akan mengarungi samudera, kan ini ceritanya tentang orang Makassar akan ke Aborijin,” kata musisi yang pernah mengadakan 50 konser selama setahun ini.
Untuk mempersiapkan karya ini, Ananda mengaku telah melakukan riset sejak bulan Mei.
“Saya memang baru pergi ke tanah Aborijin dari tanggal 3 Juli, tapi sebelumnya saya sudah studi-studi, lihat-lihat di Youtube. Untungnya ada Youtube sekarang. Terus buku “Voyage to Marege”, saya sudah baca, jadi prosesnya sih sebenarnya dari Mei.”
Bagi Ananda, proyek kolaborasi ini melambangkan hal penting lain di luar seni.
“Musik itu alat komunikasi yang lebih efektif daripada kata-kata.”
“Makanya saya bilang, saya sukanya orang Aborijin itu, kata-kata tidak begitu penting. Kata bisa bohong tapi musik nggak bisa bohong, nada-nadanya nggak bisa bohong. Maksudnya kalau kita ingin mengekspresikan kondisi ini brarti nadanya seperti ini, kalau dibuat seperti itu pasti akan merasa nggak pas.”
Kolaborasi ini digagas oleh Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Menurut keterangan Atase Kebudayaan Alison Purnell, konser ini sengaja digelar untuk menapak tilasi sejarah hubungan dekat di antara Australia dan Indonesia.
“Hubungan antara komunitas adat Abroijin Australia, khususnya komunitas Yolngu dari North East Arnhem Land dengan para pedagang dari Sulawesi Selatan dimulai sejak lebih dari 4 abad lalu, sebelum pendudukan Eropa.”
“Para pedagang Sulawesi Selatan mencari tripang di perairan Australia utara, menghasilkan jalur perdagangan yang tumbuh dengan pesat dan bertahan hingga awal 1900an.”
Rencananya, selain di Jakarta, karya kolaborasi Ananda juga akan dipentaskan dalam Festival Darwin 2018 dan Festival Penulis Internasional Makassar 2018.

Baca tanpa iklan