Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
ABC World

Lima Puluhan Pengungsi Pulau Manus Memulai Hidup Baru di AS

Sambil berdiri di dalam sebuah kamar yang hampir kosong, Abdul Ghafar Ghulami membuka resleting tas ranselnya.

Tayang:
Baca & Ambil Poin

"Masih mengalami mimpi buruk, dan saya merasa masih berada di sana."

Mereka berusaha tetap optimistis agar bisa melangkah maju.

"AS adalah negara yang penuh peluang," kata Jawad sambil tersenyum.

"AS adalah negara tempat Anda bisa mendapatkan pekerjaan bagus, atau mendapatkan pendidikan yang bagus jadi itu benar-benar tergantung pada orangnya," sebutnya.

Baik Jawad maupun Abdul tidak tahu banyak tentang kota baru mereka. Jawad mendaftar hal-hal yang ia tahu tentang Kentucky; yaitu KFC, wiski dan pacuan kuda.

Jawad Hussain adalah satu dari 54 pengungsi di Papua Nugini dan Nauru yang dimukimkan kembali ke AS.
Jawad Hussain adalah satu dari 54 pengungsi di Papua Nugini dan Nauru yang dimukimkan kembali ke AS.

ABC News: Brad Fulton

Penjara lebih baik daripada Pulau Manus

Kedua pria itu bersikeras mereka kehilangan minat untuk menetap di Australia sejak lama, mengingat masa tinggal mereka di Pulau Manus selalu terganggu.

Rekomendasi Untuk Anda

"Bahkan penjara lebih baik. Mengapa? karena penjahat tahu berapa lama mereka harus tinggal di sana, tapi kami tak tahu hal itu," ceplosnya.

Pihak berwenang mengatakan, mereka berencana untuk menutup pusat penahanan Pulau Manus pada akhir Oktober.

"Itu bukan satu bab cerita yang setelah selesai dapat anda tutup begitu saja lalu semuanya menjadi sejarah," kata Jawad.

"Australia membuat sejarah kekejaman ... dan orang-orang akan mengingat hal ini."

Sejauh ini, hanya 54 pengungsi dari Papua Nugini dan Nauru yang telah menetap di AS.

Abdul mengatakan, ia masih berhubungan dengan banyak temannya di Pulau Manus, dan mereka mengatakan kondisinya semakin memburuk.

"Saya sangat senang saat ini, tapi kebahagiaan saya tidak lengkap sampai semua teman saya keluar dari sana dan merasa bebas dan bermukim di manapun mereka mau dan saya pikir itu akan menjadi hari bahagia saya yang lengkap," ujar Abdul.

Jawad dan Abdul menyebut pusat tahanan Pulau Manus sebagai ‘neraka’.
Jawad dan Abdul menyebut pusat tahanan Pulau Manus sebagai ‘neraka’.

Reuters

Simak berita ini dalam bahasa Inggris di sini.

Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Atas