Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●
Update Jadwal & Skor
Grup B - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 02:00 WIB
Canada
Kanada
1 - 1
Bosnia
Bosnia
Grup D - Matchday 1
Sabtu, 13 Juni 2026 | 08:00 WIB
United States
Amerika Serikat
4 - 1
Paraguay
Paraguay
Lihat Selengkapnya
Semua Jadwal Laga

Akankah Batik Kenongo Madiun Punah?

Batik khas Kabupaten Madiun, Batik Kenonogo, di sentra batik Desa Kenongorejo, Kecamatan Pilangkenceng, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, nyaris punah.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Tjatur Wisanggeni
Memuat video…

Batik khas Kabupaten Madiun saat ini dapat dikatakan sedang dalam keadaan mati suri. Minimnya motif yang dikembangkan membuat Batik Kenongo sulit untuk dipasarkan.

Hal ini diperparah dengan masuknya batik dari Solo, Pekalongan, Yogyakarta, dan daerah lainnya di pasar lokal, ujar Kepala Bagian Humas Kabupaten Madiun, Mardi’i.

Menurut dia, pada 1980-an masih ada sekitar 20 industri rumah tangga kerajinan batik di Desa Kenongorejo. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, tinggal satu perajin saja yang tertinggal. Kini keberadaan Batik Kenongo hampir punah dan sulit berkembang.

Sekitar 1980-an hingga 1990-an, Batik Kenongo masih diproduksi secara normal. Namun pada tahun 2000-an jumlah perajin terus berkurang hingga akhirnya nyaris hilang. Melihat masa depan yang tak jelas, penerus perajin itu tak berminat untuk melanjutkan warisan orang tuanya.

Warga desa sekitar yang paham dengan seni membatik lebih memilih menjadi tenaga kerja wanita (TKW) keluar negeri dengan pertimbangan lebih menguntungkan daripada menjadi perajin batik. Karena tak ada regenerasi itulah, keberadaan Batik Kenongo nyaris hilang.

Meski demikian, Pemerintah Kabupaten Madiun, melalui dinas terkait, tetap melihat potensi batik yang bisa dikembangkan, walaupun kini hanya tinggal satu perajin batik saja yang bertahan.

"Pemkab Madiun sangat ingin menyelamatkan keberadaan Batik Kenongo sebagai batik khas Kabupaten Madiun. Saat ini berbagai upaya tengah ditempuh untuk melestarikan budaya luhur tersebut. Apalagi, saat ini batik telah diakui hingga tingkat internasional. Butuh kerja keras semua pihak untuk mewujudkannya," kata Mardi’i.

Rekomendasi Untuk Anda

Belajar dari industri batik di Pekalongan, Pemkab Madiun ingin menghidupkan kembali kerajinan batik di Desa Kenongorejo, Kecamatan Pilangkenceng, yang dulu pernah menjadi sentra batik dengan motif bunga kenanga.

"Kami melihat batik Pekalongan yang kaya akan corak, motif, dan warna ini lebih indah dan maju. Karenanya, Pemkab Madiun ingin menimba ilmunya agar nantinya dapat diterapkan, termasuk juga pengelolaan perajin dan pemasaran batiknya," ujar Kepala Bidang Perdagangan, Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pariwisata (Disperindagta) Kabupaten Madiun, Agus Trisilo.

Batik Pekalongan memang cukup dikenal sebagai satu dari sekian banyak motif batik yang ada di Tanah Air. Motifnya yang banyak mengedepankan corak pesisir dan berani bermain warna, membuat batik Pekalongan mendapat tempat tersendiri di hati para pencinta batik.

Pemasaran batik Pekalongan sudah merambah hingga keluar negara seperti Malaysia dan Brunei Darussalam. Para perajin batik di Pekalongan mengekspor produksinya dengan menggunakan pihak ketiga atau pengepul di Jakarta.

Di bawah binaan Dinas Koperasi, UMKM, Industri, dan Perdagangan kabupaten setempat, batik Pekalongan terus berkembang hingga produksinya mencapai 36.895.230 meter per tahun, dengan menyerap tenaga kerja sebanyak 88.439 orang.

Di samping karena sebagai warisan budaya secara turun-temurun dari nenek moyang, kesuksesan perajin batik di Kabupaten Pekalongan, juga karena perhatian Pemkab Pekalongan melalui Dinas Koperasi UKM, Perdagangan, dan Perindustrian dalam memberikan bantuan modal kepada perajin batik secara bergulir.

Pemberian bantuan modal usaha kepada perajin batik di Pekalongan diberikan secara bergulir dan khusus untuk perajin yang mempunyai SIUP paling tidak usahanya sudah berjalan 2 hingga 4 tahun.

Modal bergulir tersebut, dengan minimal bantuan modal antara Rp50 juta per kelompok sebanyak 20 orang anggota perajin batik atau setiap perajin menerima Rp2,5 juta.

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas