Ical Turun dan Chairul Tanjung Melejit di Daftar Terkaya
Berbeda dari Ical, satu dari sekian pengusaha fenomenal itu adalah Chairul Tanjung
Penulis:
Srihandriatmo Malau
Editor:
Yudie Thirzano
Dia memprediksi, sampai tahun 2010, jumlah penduduk dunia sekitar 9 miliar, atau tumbuh sekitar 28 persen dari posisi tahun 2011. Kalau pertumbuhan penduduk di bawah 30 persen, sedangkan pertumbuhan kebutuhan manusia, terutama menyangkut pangan, biasanya lebih dua kali lipat, bisa mencapai 70 persen. "Maka itu, salah satu peluang ke depan adalah perusahaan makanan," ujarnya.
Krisis ekonomi negara-negra di Barat dan Amerika pun menjadi kecenderunga nyang patut dicermati. Menurut dia, akibat krisis itu, iklim invetasi akan lebih terbuka dan menguntung di Asia, termasuk Indonesia. "Karena itu, kalau pebisnis masih memanamkan modalnay ke Eropa, itu namanya melawan trend, dan bisa dipastikan alamat mati," ujarnya.
Kecenderungan lainnya, menyangkut teknologi dan informasi. Saat industri dunia melaju oleh teknologi dan komunikasi, dan kesibukan kaum metropolitan semakin padat, maka ada satu kebutuhan, segala masalah dapat dipecahkan dari satu alat dan satu tempat. Karena itu, perkembangan alat-alat telekomunikasi cerdas yang real time, dan bisa menjawab keinginan konsumen kian dibutuhkan.
Dia mencontohkan, kalau satu tayangan televisi, misalnya Overa Van Java di Trans7 tayang pada primetime. Sedangkan seseorang penggemar acara itu sedang sibuk pada saat-saat itu, maka si konsumen ingin, dapat menonton acara serupa pada waktu yang dia miliki. Itulah tantangan buat pihak Trans7 dalam hal ini, membuat video streaming yang bisa ditonton ulang.
"Salah satu kebutuhan trend bisnis ke depan adalah kreatif, inovatif dan entrepneruship yang kuat. Kalau tidak punya sifat kreatif, inovatif dan entrepneruship itu maka jangan harap berkembang dan bertahan," ujar CT.
Kepada anakbuahnya, CT mematok target pertumbuhan dengan tinggi. "Kalau misalnya inflasi sekitar 7 persen atau di bawah 10 persen per tahun, dia akan memasang target jauh di atas itu. "Kami mematok target grouwth rata-rata 35 persen," ujarnya. Alasannya, kalau dipatok rendah, sedangkan perusahaan pesaing juga tumbuh, berarti perusahaan yang kita miliki tidak ada sesuatu yang luar biasa.
Laporan Forbes mengatakan, Konglomerat Grup Djarum memiliki kekayaan 14 miliar dolar AS atau sekitar Rp 126 triliun (asumsi 1 dolar AS = Rp 9.000. Tahun lalu, Forbes juga menempatkan Budi & Michael Hartono di peringkat pertama dengan kekayaan 11 miliar dolar AS. Berarti ada peningkatan kekayaan sebesar 3 miliar dolar (sekitar Rp2,7 triliun). (tribunnews/mal/amb)
Baca tanpa iklan