Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tarif Listrik Naik, Ekspor Tekstil Semakin Sulit

Kondisi semakin sulit ketika pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) lanjutan pada 1 September 2014

Tarif Listrik Naik, Ekspor Tekstil Semakin Sulit
KOMPAS/HERU SRI KUMORO
Proses produksi poliester di PT Asia Pacific Fibers di Karawang, Jawa Barat, Senin (21/10/2013). Sebagai pemasok 23 persen kebutuhan tekstil dalam negeri, APF tidak bisa meningkatkan kapasitasnya, memperbarui mesin dan fasilitas lainnya, dikarenakan kebutuhan dana yang besar tidak didukung fasilitas perbankan akibat restrukturisasi hutang APF yang belum disetujui Perusahaan Pengelolaan Aset. (Kompas/Heru Sri Kumoro) 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kenaikan biaya jasa pelayanan pelabuhan di Tanjung Priok Jakarta bakal berpengaruh bagi pertumbuhan ekspor tekstil tahun ini. Kondisi semakin sulit ketika pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) lanjutan pada 1 September 2014.

Ade Sudrajat, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) memproyeksikan, ekspor tekstil tahun ini kurang lebih sama dengan ekspor tahun lalu. "Sampai akhir tahun ini, kami memperkirakan ekspor sekitar US$ 12,6 miliar. Hampir sama dengan tahun lalu," kata Ade.

Menurut Ade, ekspor tekstil tahun ini susah naik karena ada tambahan beban perusahaan. Pertama, kenaikan beban dari biaya pengiriman. Hal ini terjadi karena kenaikan tarif jasa jasa pelabuhan di Tanjung Priok. Kedua, kenaikan komponen biaya produksi akibat kenaikan tarif listrik sekitar 40% tahun ini.

Ade mengklaim pada semester I tahun lalu, kinerja industri tekstil masih cukup melegakan. Dampak kenaikan tarif listrik dan jasa pelabuhan akan terasa memberatkan pada semester II-2014.

Kinerja ekspor yang seret ini setidaknya tampak dari kinerja pertumbuhan ekspor salah satu emiten tekstil, PT Eratex Djaja Tbk. Perusahaan yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan kode ERTX ini hanya mencatat kenaikan ekspor tipis 0,35% menjadi US$ 28,7 juta dari realisasi waktu yang sama tahun lalu sebanyak US$ 28,6 juta.

Tak hanya di pasar ekspor, Ade memproyeksikan, penjualan tekstil di pasar domestik juga tidak mengalami perubahan banyak pada semester II-2014. Selain karena naiknya tarif listrik, penerapan pajak sebesar 10% untuk produk pertanian bisa mempengaruhi penjualan tekstil.

Dia memperkirakan, sampai akhir tahun ini, penjualan tekstil di pasar lokal sekitar Rp 70 triliun. "Kurang lebih tidak ada peningkatan karena pertumbuhan ekonomi juga lebih kecil dibandingkan inflasi," terang Ade.

Namun begitu, Ade menyelipkan sedikit harapan kenaikan penjualan tekstil saat moment Natal dan Tahun Baru. Walaupun kenaikan permintaannya tak seperti Lebaran, setidaknya Ade berharap kenaikan penjualan itu bisa melipur lara.

Adapun pilihan menaikkan harga saat ini masih menjadi pertimbangan Ade. Sebab, kenaikan harga sama dengan menurunkan daya saing. (Francisca Bertha Vistika)

Ikuti kami di
Add Friend
Sumber: Kontan
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas