Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Kenaikan Harga BBM

12 Industri Pemintalan Gulung Tikar

Penutupan dilakukan karena mereka tak sanggup menghadapi lonjakan beban operasional akibat lonjakan tarif listrik

12 Industri Pemintalan Gulung Tikar
Kontan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Sudah jatuh tertimpa tangga. Inilah perumpamaan yang tepat untuk menggambarkan kondisi industri pemintalan benang di Indonesia. Setelah pemerintah menaikkan tarif dasar listrik (TDL) dari awal tahun, kini, industri tekstil berhadapan dengan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Ade Sudrajat, Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) menyebutkan, sejak kenaikan TDL tahun lalu, ada 12 industri pemintalan benang yang menutup usahanya. Penutupan dilakukan karena mereka tak sanggup menghadapi lonjakan beban operasional akibat lonjakan tarif listrik. "Pabrik yang tutup ini sebagian berada di Jabodetabek," tandas Ade kepada KONTAN, Minggu (23/11/2014).

Sayangnya, Ade enggan menyebut nama pabrik pemintalan benang yang tutup tersebut. Ia hanya bilang, industri yang tutup itu sebagian berstatus industri kecil dan sebagian berstatus industri pemintalan benang skala menengah yang sudah lama beroperasi.

Dalam hitungan Ade, pengeluaran untuk komponen listrik mencapai 25%-30% dari total biaya produksi di industri pemintalan benang. Jika biaya listrik naik, otomatis biaya produksi benang juga ikutan membengkak.

Sementara pilihan menaikkan harga jual benang sulit dilakukan, karena bisa menurunkan daya saing produk mereka ketika berhadapan dengan benang impor.

Tak hanya industri peintalan benang saja yang tertekan kenaikan harga TDL. Industri garmen juga mengeluhkan hal serupa. Menurut Ade, kenaikan TDL sampai 40% membuat biaya produksi garmen naik 8%. "Jika kami menaikkan harga, kami berhadapan dengan barang impor. Selain itu, daya beli konsumen bisa turun," kata Ade.

Belum tuntas masalah dari kenaikan TDL, kini industri tekstil dan produk tekstil berhadapan dengan kenaikan harga BBM bersubsidi. Ade mengklaim, kenaikan harga BBM subsidi bisa menambah daftar perusahaan tekstil dan produk tekstil yang tutup.

Sebab, kenaikan BBM akan membuat harga produksi tekstil menjadi lebih mahal karena kenaikan biaya distribusi. "Setelah biaya distribusi naik, biaya transportasi pegawai pasti naik. Upah juga naik," kata Ade yang tak mau berharap banyak dari pemerintahan baru saat ini. (Francisca Bertha Vistika)

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Hendra Gunawan
Sumber: Kontan
  Loading comments...

Berita Terkait :#Kenaikan Harga BBM

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas