Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Bisnis Grup Djarum Meraksasa Pasca-Krisis Ekonomi

Pasar rokok yang besar di Indonesia membuat bisnis Djarum bisa tumbuh dan menjadikannya salah satu pebisnis rokok terbesar di Tanah Air.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Bisnis Grup Djarum Meraksasa Pasca-Krisis Ekonomi
MAXMANROE.COM
Martin Hartono, satu dari tiga putra Mahkota di Grup Djarum 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA- Pepatah pendiri Grup Djarum, Oei Wie Gwan mendapat tempat khusus di kantor pusat PT Djarum yang berada di KS Tubun, Jakarta Barat: Selalu ada jalan keluar... jangan pernah putus asa. 

Bisa jadi kalimat Oei Wie Gwan inilah yang menjadi bejal dari kedua anaknya: Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono, untuk bisa mengembalikan keterpurukan usaha rokok yang sudah dirintis sang ayah.

Pelan namun pasti, kedua kakak beradik ini mulai mengembangkan bisnis rokok, khususnya rokok kretek.

Pasar rokok yang besar di Indonesia membuat bisnis Djarum bisa tumbuh dan menjadikannya salah satu pebisnis rokok terbesar di Tanah Air.

Tahun 2015 lalu, Djarum menggenggam 20% pangsa pasar rokok nasional.

Hasil dari melinting dan meracik produk rokok ini membuat Djarum bisa lebih leluasa mengembangkan bisnis di luar ranah rokok.

Di bisnis elektronik, Djarum mencoba  peruntungan di bisnis tersebut dengan mengibarkan merek dagang Polytron.

Rekomendasi Untuk Anda

Sempat turun naik, produk Polytron, terutama televisi warna hemat energi dan produk audio sempat menguasai pasar nasional di era 1980-an, bahkan sampai sekarang.

Keinginan Djarum untuk lebih ekspansif di luar rokok semakin menjadi. Meski saat krisis ekonomi 1998 hampir seluruh perusahaan kakap terpuruk, pebisnis rokok termasuk Djarum, masih bisa mengepulkan asap.

Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) mencatat, kala itu, industri rokok kretek menguasai lebih dari 90 persen pasar rokok lokal.

Tapi setelah pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 109/2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan, peta industri rokok nasional berubah.

Sejumlah pebisnis rokok mulai memikirkan langkah lanjut untuk mengamankan bisnis. Termasuk Djarum.

"Pasar rokok, gitu-gitu saja. Tumbuh, tapi cukai juga naik. Aturannya  aturannya juga sangat ketat," kata Victor R Hartono, anak tertua Budi Hartono.

Masuk ke bank dan properti

Faktor inilah yang membuat Djarum bikin kaget jagat bisnis Tanah Air. Utamanya sewaktu perusahaan ini membeli sebagian besar saham Bank Central Asia (BCA) pada 2012.

Sumber: Kontan
Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas