Arcandra: Tak Ada Negara yang Bisa Mendikte Besaran Harga Minyak
Tidak ada satupun negara memiliki posisi dominan yang bisa mempengaruhi pasar secara sepihak"
Penulis: Adiatmaputra Fajar Pratama
Editor: Choirul Arifin
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Selama beberapa tahun terakhir harga minyak dunia terus menurun. Bahkan harga acuan minyak di Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) di kisaran angka 50 dollar AS per barrel.
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar menilai tidak ada satu negara maju pun yang bisa mendikre harga minyak.
Dia menilai hal tersebut sebagai faktor eksternal yang harus dihadapi bersama.
Tidak ada satupun negara memiliki posisi dominan yang bisa mempengaruhi pasar secara sepihak," ungkap Arcandra Tahar di Rakernas Kadin, Jakarta, Selasa (1/11/2016).
Saat harga menurun, Arcandra mengetahui iklim dunia usaha sektor migas juga mengalami perlambatan. Bahkan komoditas minyak bumi sudah tidak menjadi populer lagi untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
"Kondisi usaha kegiatan migas nasional pada beberapa tahun terakhir pada titik terendah," ungkap Arcandra.
Pemerinta pun mencari cara agar sektor migas harus terus berkembang ditengah anjloknya harga minyak bumi. Arcandra pun berpendapat ada banyak hal yang bisa dilakukan untuk menggairahkan kembali melalui revisi UU Migas.
"Sehubungan dengan iklim investasi sektor migas, terdapat persoalan mendasar yang harus diperbaiki," papar Arcandra.