Ekonom: Pertumbuhan Ekonomi 2017 Stagnan
Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebut pertumbuhan ekonomi 2017 mengalami stagnasi jika dibanding tahun 2016.
Penulis:
Syahrizal Sidik
Editor:
Sanusi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Badan Pusat Statistik merilis di sepanjang tahun 2017, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat mengalami kenaikan tipis ke posisi 5,07 persen.
Capaian ini tercatat lebih tinggi dari tahun 2016 yang mana pertumbuhan ekonomi berada di level 5,03 persen.
Namun demikian, Ekonom Institute for Development of Economics & Finance (Indef), Bhima Yudhistira Adhinegara, menyebut pertumbuhan ekonomi 2017 mengalami stagnasi jika dibanding tahun 2016.
“Padahal secara global sebenarnya ekonomi sedang bergerak naik,” kata Bhima, saat dihubungi Tribunnews.com, Senin (5/2/2018).
Untuk wilayah Asean, Malaysia tumbuh 6,2 persen, Thailand 4,3 persen dan Filipina 6,6 persen.
“Kalau Indonesia cuma tumbuh di angka 5 persen artinya kita belum optimal memanfaatkan peluang,” jelas dia.
Bhima menilai, ada beberapa faktor yang membuat pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami stagnasi di 2017. Salah satu penyebabnya adalah sektor konsumsi rumah tangga yang berkotribusi 56 persen terhadap PDB justru mengalami penurunan pertumbuhan yakni hanya mencapai 4,95 persen lebih rendah dari 2016 di angka 5,01 persen.
“Konsumsi rendah dipicu oleh kebijakan pencabutan subsidi listrik di awal tahun 2017. Akibatnya daya beli masyarakat miskin jatuh,” ungkap Bhima.
Bhima menambahkan, adanya kecenderungan orang kaya menahan belanja, mengakibatkan ritel menengah atas berguguran di sepanjang tahun 2017.
Bhima mencatat, pertumbuhan industri manufaktur juga bergerak mendatar di kisaran 4,27 persen, porsinya juga anjlok menjadi 20,16 persen terhadap PDB.
Proyeksi di 2018
Melihat realisasi pertumbuhan 2017 yang stagnan, dirinya menilia akan sulit mencapai target pertumbuhan ekonomi 5,4 persen yang ditetapkan Pemerintah di 2018.
“Estimasi Indef tahun 2018 ekonomi cuma tumbuh 5,1 persen,” kata Bhima.
Hal ini disebabkan pelbagai faktor. Pertama, ia memperkirakan sektor konsumsi rumah tangga masih stagnan di kisaran 4,9-5 persen.
“Pengaruh inflasi pangan dan tekanan harga minyak mentah yang tinggi dikhawatirkan memicu naiknya bahan bakar minyak dan tarif listrik. Kalau inflasi tinggi, daya beli bisa terpukul, tahun politik juga ada kecenderungan kelas atas menahan konsumsinya,” terangnya.