Tribun Bisnis

Menperin: Industri Pengolahan Aluminium Harus Berani Ekspor Barang Setengah Jadi

“Sehingga tidak perlu lagi ekspor bahan baku mentah. Kita harus berani beralih, dengan ekspor barang dalam bentuk setengah jadi atau jadi,” katanya

Penulis: Reynas Abdila
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
Menperin: Industri Pengolahan Aluminium Harus Berani Ekspor Barang Setengah Jadi
HANDOUT
Menperin Airlangga Hartarto di acara kick-off Unit IKM Koperasi Batur Jaya di Ceper, Jawa Tengah, masuk ke dalam supply chain industri otomotif. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto bertekad meningkatkan nilai tambah bahan baku industri pengolahan aluminium dalam negeri sebagai langkah optimalisasi kebijakan hilirisasi industri.

“Sehingga tidak perlu lagi ekspor bahan baku mentah. Kita harus berani beralih, dengan ekspor barang dalam bentuk setengah jadi atau jadi,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Sabtu (6/4/2019).

Baca: Menperin Airlangga: Ekonomi Digital Buka Peluang Tumbuhnya Wirausaha Industri Baru

Industri pengolahan aluminium diharapkan tidak hanya bergerak di sektor hulu, tetapi sudah bergeser hingga produk hilir dan komponen. 

“Balakangan ini telah berkembang beberapa bidang industri pengolahan berbasis mineral logam, termasuk pengolahan bijih bauksit menjadi alumina, yang nantinya akan diolah menjadi logam aluminium,” papar Airlangga Hartarto.

Kemenperin memberikan apresiasi kepada PT Indonesia Asahan Aluminum/Inalum (Persero) yang bekerja sama dengan PT ANTAM Tbk., melalui anak usaha patungan mereka PT Borneo Alumina Indonesia (PT BAI), yang melakukan Pencanangan Pembangunan Smelter Grade Alumina Refinery di Desa Bukit Batu, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat.

Indonesia memiliki cadangan bauksit terbesar keenam di dunia.

Proyek ini akan mengurangi ekspor mineral mentah dan sekaligus ketergantungan impor untuk sumber bahan baku untuk produksi aluminium.

Proyek Pengolahan Smelter Grade Alumina ini akan memiliki kapasitas awal sebesar 1 Juta ton per tahun.

Proyek ini juga akan dilengkapi dengan Pembangkit Listrik Tenaga Batubara sebesar 3 x 25 MW.

Baca: Semangat Ibu Bangsa Jadi Spirit Kowani Siapkan Generasi Mantap Industri 4.0

Investasi proyek ini diperkirakan akan mencapai USD 850 Juta (termasuk IDC dan Modal Kerja) dan ditargetkan mulai berproduksi di awal tahun 2022.

Proyek ini akan memicu roda perekonomian di Provinsi Kalimantan Barat dan khususnya di Kabupaten Mempawah dengan adanya potensi penambahan pendapatan daerah, penyediaan lapangan kerja baik langsung maupun tidak langsung, serta program pemberdayaan masyarakat sekitar lokasi proyek.

Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas