Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version

BPPI Tahun Depan Mulai Riset Daur Ulang Baterai Lithium

Riset ini untuk mendapatkan teknologi daur ulang baterai lithium yang tepat dan saat ini populasinya semakin meningkat.

BPPI Tahun Depan Mulai Riset Daur Ulang Baterai Lithium
HANDOUT
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Mulai awal tahun depan,  Balai Besar Bahan Baku dan Teknik (B4T) yang dikelola Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian akan memulai riset daur ulang baterai lithium di Indonesia.

Riset ini untuk mendapatkan teknologi daur ulang baterai lithium yang tepat dan saat ini populasinya semakin meningkat. Antara lain untuk penggunaan sebagai baterai smartphone.

"Kita upayakan riset daur ulang baterai lithium mulai tahun depan di B4T," ujar Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara.

"Saat ini baterai lithium ini populasinya sudah terlanjur banyak di Indonesia. Fokus riset baterai lithium di beragam perangkat. Lithium ini berbahaya bagi lingkungan jika dibuang. Riset ini program sudah disetujui dan didanai dari APBN," jelasnya.

Riset ini akan berlangsung selama 1 tahun dan setelah itu dievaluasi.

Ngakan menambahkan, BPPI selama ini terbuka untuk bermitra dengan dunia usaha untuk riset bersama inovasi di bidang teknologi, termasuk aspek komersialisasinya.

Salah satu yang sudah dijalankan adalah kerjasama dengan PT Triangle Motorindo, produsen sepeda motor listrik Viar.

"Dengan Viar kita menjalin kerjasama riset baterai lithium untuk sumber tenaga sepeda motor listrik," ujar Ngakan. Riset ini juga mencakup penyempurnaan menyangkut kapasitas daya listrik dan aspek biaya produks baterai lithium.

Baca: Zulkifli Hasan Berpantun di Sidang MPR, Beri Sinyal Dukungan ke Jokowi-Maruf

Dia menambahkan, B4T sebagai lembaga riset di bawah BPPI Kemenperin tidak boleh melakukan proses produksi massal atas inovasi teknologi yang diperoleh dari riset yang dilakukannya.

"B4T hanya sebagai lembaga riset. Kita memberikan hasil temuan riset kita ke dunia usaha. Dunia usaha yang ingin memproduksi silakan, kita hanya ambil dari perjanjian royaltinya saja. Pada prinsipnya kita siap bermitra dengan dunia usaha karena kita tidak boleh memproduksi sendiri. Kita berikan kepada perusahaan besar maupun startup untuk bekerja sama," jelasnya. 

Baca: Diujicoba Pada Tikus yang Terpapar Sel Kanker, Peneliti Ini Kaget dengan Khasiat Kayu Bajakah

Seiring dengan tren elektrifikasi dengan segera hadirnya teknologi kendaraan listrik menyusul telah ditandantanganinya Perpres Kendaraan Listrik, Ngakan menyatakan, pihaknya juga siap bekerja sama dengan dunia usaha, termasuk untuk riset recycle baterai listriknya.

"Untuk daur ulang baterai lithium di mobil listrik pada prinsipnya kita upayakan semaksimal mungkin harus dilakukan di Indonesia. Kita harus bisa rebut teknologi pengolahannya. Jangan sampai proses penghancuran baterai lithiumnya harus dilakukan di luar negeri," sebut Ngakan.

"Sekarang kita baru mau bergerak ke sana. Perpres-nya kan baru keluar. Di situ disebut, awalnya pengusaha boleh impor mobil listrik, setelah 3 tahun harus ada TKDN 30 persen," jelasnya.

"Kita sekarang masih lakukan mapping untuk baterai kendaraan listrik. Kita memiliki sumber bahan bakunya nikel dan kobalt. Bahan bakunya cukup besar di Indonesia, tinggal teknologinya. Jika mereka mau memproduksi di Indonesia, harus jelas alih teknologinya," tandasnya.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas