Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Diselimuti Awan Gelap, Indef Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 4,8 Persen pada 2020

Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memprediksi ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,8 persen pada 2020.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Sanusi
zoom-in Diselimuti Awan Gelap, Indef Prediksi Ekonomi RI Tumbuh 4,8 Persen pada 2020
Yanuar Riezqi Yovanda
Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Institute for Development of Economics and Finance (Indef) memprediksi ekonomi Indonesia hanya tumbuh 4,8 persen pada 2020.

Direktur Eksekutif Indef Tauhid Ahmad, mengatakan pertumbuhan tersebut lebih rendah dari realisasi 5,02 persen pada 2019 akibat ketidakpastian global.

"Kami melihat pada 2020 masih ada awan gelap, ketidakpastian global masih terjadi. Selain itu, juga dengan virus corona dan situasi domestik," ujarnya di Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Baca: Pemerhati Olahraga: PON Hanya Ada Di Papua, Jangan Lukai Rakyat Papua

Baca: Gubernur Anies Baswedan:Revitalisasi Monas Jalan Terus

Baca: WNI di Singapura Diimbau Tetap Berktivitas Seperti Biasa Namun Selalu Waspada

Menurut Tauhid, angka itu masih cukup realistis melihat faktor domestik juga masih belum punya daya untuk mendorong perekonomian di atas 5 persen.

"Pertumbuhan ekonomi 2020 minimum 4,8 persen, mungkin segitu realistis. Dilihat dari beberapa faktor yakni daya beli tertahan meski pemerintah beri bantuan sosial melalui kenaikan gaji pegawai dan sebagainya tidak mendorong," katanya.

Kedua, ia menjelaskan, RUU Omnibus Law yang akan digenjot pemerintah pada 2020 diyakini tidak efektif untuk mendorong investasi lebih tinggi.

Rekomendasi Untuk Anda

"Setelah dari DPR butuh turunan aturan pemerintah, tidak selesai 2020. Kemungkinan baru efektif 2021 atau 2022, sehingga investasi yang diharapkan 2020 belum datang secara cepat," kata Tauhid.

Ketiga, lanjutnya, Indonesia masih mempunyai ''pekerjaan rumah'' yakni defisit perdagangan yang besar, sehingga menekan defisit transaksi berjalan.

"Ini terutama defisit migas yang kebutuhan tidak dicukupi produksi. Diperkirakan defisit transaksi berjalan masih melebar antara 2,7 persen hingga 2,9 persen," pungkasnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas