Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Gaprindo Minta Evaluasi Menyeluruh Terhadap Perda KTR Bogor

"PP 109 Tahun 2012 seharusnya bisa dijalankan dengan baik. Jadi, jangan membuat peraturan yang eksesif melebihi aturan di atasnya," sebut Gaprindo.

Gaprindo Minta Evaluasi Menyeluruh Terhadap Perda KTR Bogor
TRIBUNNEWS/CHOIRUL ARIFIN
Ketua Umum Gaprindo Muhaimin Moeftie (kiri) bersama pakar industri hasil tembakau Dr. Mochammad Sholichin M.Pharm, di paparan pernyataan sikap Gaprindo terhadap rencana revisi PP Nomor 109 Tahun 2002 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Berupa Produk Tembakau Bagi Kesehatan di Jakarta, Selasa (28/1/2020). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Gabungan Produsen Rokok Putih Indonesia (Gaprindo) berharap agar Perda Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Kota Bogor dievaluasi secara menyeluruh lantaran Perda ini berseberangan dengan PP 109 Tahun 2012 Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan.

"PP 109 Tahun 2012 seharusnya bisa dijalankan dengan baik. Jadi, jangan membuat peraturan yang eksesif melebihi aturan di atasnya. Kalau sudah jadi preseden buruk, malah lebih ramai lagi,” jelas Ketua Gaprindo Muhaimin Moefti dalam keterangan pers tertulis, Senin (17/2/2020).

Moefti menegaskan pabrikan rokok anggota Gaprindo selama ini taat pada peraturan Pemerintah. Untuk itu, Perda KTR Bogor diharapkan tidak terlalu keras agar tidak menimbulkan ketidakpastian usaha.

“Iklan rokok di KTR sebaiknya dibolehkan dan rokok juga masih bisa dipajang karena rokok itu barang legal,” katanya.

Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi daerah (KPPOD) dalam hasil kajiannya menyatakan Perda ini bermasalah karenasecara substansif bertentangan dengan PP 109/2012.

Baca: Skandal Manipulasi Keuangan Mengguncang Manchester City, Begini Kronologinya

Sebelumnya, Perda Nomor 10/2018 tentang Kawasan Tanpa Rokok (Perda KTR) di Kota Bogor menuai kontroversi setelah sejumlah pedagang tradisional wilayah Bogor mengajukan gugatan melalui uji meteriil (judicial review)  perda tersebut.

Baca: Survei Indo Barometer: Prabowo Menteri Paling Paling Dikenal Publik di Kabinet Jokowi

Gugatan diajukan lantan Perda ini dinilai bertolak belakang dengan peraturan di atasnya yakni PP 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan.

Baca: Kisah Ningsih Tinampi, Dukun Terapi Asal Pandaan, Pasuruan, yang Mendadak Viral

Moefti mengingatkan, mengacu pada PP 109/2012, jual-beli rokok merupakan usaha yang legal kegiatannya, promosinya, iklannya dan produksinya.

Hal ini disepakati kembali dalam kesepakatan non litigasi yang difasilitasi oleh Kementerian Hukum dan HAM.

Dalam PP 109/2012, penjual tetap diperbolehkan untuk memajang produk rokok di lokasi penjualan, sementara Perda KTR Bogor tidak selaras dengan poin tersebut.

Sejatinya, aturan KTR dibuat untuk “membatasi” bukan “melarang”. Pasalnya, saat ini tidak ada undang-undang dan peraturan pemerintah yang melarang keberadaan produk rokok dan iklan rokok.

Kepala Biro Hukum Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) R. Gani Muhamad menilai proses judicial review Perda KTR Bogor di Mahkamah Agung (MA) sebagai langkah tepat.

“Secara yuridis ini merupakan hak setiap orang untuk menggugat produk hukum daerah khususnya perda,” ujarnya.

“Kalau ada pasal-pasal yang bertentangan dengan aturan yang lebih tinggi dan kepentingan umum, itu harus bisa dibuktikan,” ujar Gani. Dia berpendapat, jika ada pihak-pihak yang keberatan atau dirugikan karena perda tersebut, isi pasal yang bermasalah itu layak untuk diuji kembali.

Jika kelak diputuskan bahwa Perda tersebut keliru, pemerintah daerah harus mengikuti dan melaksanakan keputusan MA.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas