Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Perangi COVID-19, CBC Sarankan Relaksasi Defisit APBN Hingga 10%

Pemerintah Indonesia perlu dana besar untuk memerangi wabah Virus Corona jenis anyar atau COVID-19.

Perangi COVID-19, CBC Sarankan Relaksasi Defisit APBN Hingga 10%
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Ilustrasi Rupiah 

Belajar dari sejarah protocol krisis, selama krisis sistemik masa lalu, dana untuk pemulihan krisis tidak dapat dipenuhi dana asuransi deposito saja, tetapi juga harus bergantung pada suntikan likuiditas oleh bank sentral, atau penyediaan dana publik oleh pemerintah.

Dalam jawaban untuk pertanyaan tentang pendanaan cadangan yang mungkin diperlukan ketika perusahaan asuransi tidak memiliki dana yang cukup untuk menutupi klaim asuransi deposito, kata Deni, banyak dari responden survei mengatakan, bahwa mereka mendapatkan dana darurat dengan meminjam dari pemerintah, bank sentral atau lembaga keuangan.

Dan 17 responden memberikan tanda centang pada kotak untuk meminjam dari bank sentral, 26 pinjaman dari pemerintah, dan 17 pinjaman dari lembaga keuangan tertanggung lainnya.

Sementara itu, 18 yurisdiksi memilih penerbitan obligasi dana asuransi deposito sebagai sumber pendanaan darurat dan 8 memilih sementara pra-pembayaran premi asuransi.

Sementara 30 dari 51 responden mengatakan mereka menggunakan dua atau lebih metode untuk membiayai kekurangan dana asuaransi deposito.

Ketika ditanya bagaimana mereka merencanakan untuk membayar kembali pinjaman darurat, 15 responden menjawab akan menaikkan premi asuransi deposito, 14 mengatakan mereka akan mengutip penilaian khusus atau kontribusi, dua negara (Nikaragua dan Serbia) mengatakan mereka akan menggunakan uang dari kas sendiri, 10 mengindikasikan bahwa mereka akan menggunakan metode-metode lainnya dan sebanyak 12 mengatakan mereka tidak akan mengambil tindakan apapun.

"Ukuran dan risiko sistemik harus jelas. Di mana setiap penggunaan pembiayaan eksternal untuk menyerap kerugian atau rekapitalisasi lembaga kredit akan menjadi luar biasa dan hanya digunakan dalam kasus-kasus di mana ada kepentingan publik yang kuat," papar Deni.

Persyaratan dalam protokol krisis, menurutnya, harus menetapkan bahwa pengaturan pembiayaan resolusi hanya dapat digunakan untuk menyerap kerugian dan rekapitalisasi bank sekali pemegang saham dan kreditur telah memberikan kontribusi untuk penyerapan kerugian dan rekapitalisasi yang setara dengan minimal 8% dari total kewajiban bank, termasuk dana sendiri.

Editor: Malvyandie Haryadi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas