Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun Bisnis
LIVE ●

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Hanya 2,97 Persen, Ekonom: Sinyal Buruk

perlambatan pertumbuhan ekonomi saat ini tidak hanya disebabkan pandemi virus corona (Covid-19), namun ada faktor lainnya

Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Sanusi
zoom-in Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Hanya 2,97 Persen, Ekonom: Sinyal Buruk
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
ilustrasi: Aktivitas bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ekonom INDEF Bhima Yudhistira menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2020 yang hanya sebesar 2,97 persen year on year (yoy) merupakan sinyal yang buruk.

Angka ini memang mengalami perlambatan yang cukup signifikan jika dibandingkan dengan kuartal IV tahun 2019, yakni sebesar 4,97 persen secara tahunan (year on year).

"Pertumbuhan di bawah 3 persen ini adalah indikator yang buruk," ujar Bhima, kepada Tribunnews, Kamis (7/5/2020) sore.

Menurutnya, perlambatan pertumbuhan ekonomi saat ini tidak hanya disebabkan pandemi virus corona (Covid-19), namun ada faktor lainnya yang menjadi pemicu sebelumnya.

Karena informasi terkait adanya pasien pertama yang positif terinfeksi corona baru diumumkan pada Maret lalu.

Sementara pemberlakuan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk mencegah penyebaran pandemi ini baru dimulai April, atau memasuki kuartal II.

Rekomendasi Untuk Anda

"Presiden (Joko Widodo) baru umumkan pasien 01 pada bulan Maret, sementara PSBB berlaku di Jakarta mulai April atau masuk kuartal kedua. Artinya pandemi masuk terlambat ke Indonesia saja, sudah tumbuh rendah sekali ekonomi di kuartal I," jelas Bhima.

Sehingga ia menilai merosotnya pertumbuhan ekonomi Indonesia juga didukung faktor lainnya yang berlangsung sejak beberapa tahun lalu.

"Berarti bukan hanya pandemi Covid-19 yang buat ekonomi turun tajam, tapi ada faktor sisi permintaan sejak 3 tahun lalu lesu," kata Bhima.

Dua diantaranya membanjirnya produk impor dan tidak siapnya Indonesia menghadapi dampak dari perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

"Industri, bahkan jauh sebelum Covid-19 sudah digempur barang impor dan kita tidak siap hadapi perang dagang AS- China," tegas Bhima.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengumumkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I tahun 2020 hanya sebesar 2,97 persen year on year.

Jika dibandingkan dengan kuartal IV tahun 2019 sebesar 4,97 persen yoy, angka ini memang mengalami perlambatan yang cukup signifikan.

Lebih Baik dari Negara Lain

Halaman 1/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas