Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Saran Pengusaha Terkait Penerapan Skenario New Normal

Penerapan normal baru membutuhkan dukungan perilaku disiplin masyarakat terhadap protokol kesehatan di masa Covid-19.

Saran Pengusaha Terkait Penerapan Skenario New Normal
TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN
Kendaraan bermotor berjalan merayap saat terjadi kepadatan di Jalan Pungkur, Kota Bandung, Senin (18/5/2020). Sejumlah ruas jalan yang di tutup selama penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) mengakibatkan sejumlah ruas jalan di sekitarnya menjadi padat. (TRIBUN JABAR/GANI KURNIAWAN) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Reynas Abdila

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Badan Pengurus Pusat Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPP HIPMI) Mardani H Maming menyambut baik skenario hidup normal atau The New Normal yang tengah dikaji pemerintah.

Menurutnya, penerapan normal baru membutuhkan dukungan perilaku disiplin masyarakat terhadap protokol kesehatan di masa Covid-19.

"Saat ini posisi masyarakat tengah berada di pertengahan antara zona berbahaya dengan fase new normal. Pengusaha mendorong masyarakat menuju era fase new normal," kata Maming ditulis Kamis (21/5/2020).

Maming menyarankan, dalam penerapan new normal tersebut, kegiatan ekonomi memerlukan kepastian dan tidak boleh berhenti terlalu lama.

Baca: Menjelang Lebaran Konsumsi BBM Merosot Parah, Avtur Drop Hingga 95 Persen

Jika tidak, maka akan berisiko menambah pemutusan hubungan kerja (PHK) dan mengarahkan ke kondisi resesi.

"Karena pemerintah mau keluarkan keputusan ini. Jadi, boleh tetap bekerja tetapi tetap mengikuti anjuran standar protokol kesehatan penanganan Covid-19," tuturnya.

Baca: BCA Siapkan Rp 39 Triliun Uang Tunai untuk Kebutuhan Libur Lebaran

Selain itu, HIPMI juga mendukung program Menteri BUMN Erick Thohir terkait penerapan normal baru.

Dengan adanya perubahan pada perilaku masyarakat tersebut, Maming berharap BUMN bisa menjadi lokomotif untuk mengajak masyarakat bersama-sama menuju fase new normal. 

Baca: Bangkok Bank Akuisisi 89,12 Persen Saham Bank Permata Senilai Rp 33,66 Triliun

"Kami mengusulkan kepada Kementerian BUMN untuk memerintahkan masing-masing perusahaan untuk membuat gugus tugas ekonomi penanganan Covid-19 dengan fokus perhatian untuk mengantisipasi skenario new normal," kata dia.

Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA mengungkapkan setidaknya terdapat tiga landasan mengapa Indonesia perlu kembali bekerja secepatnya.

Denny JA mengatakan, secara bertahap, Indonesia dapat memulai kembali bekerja di luar rumah pada Juni 2020 mendatang.

Hal itu lantaran, LSI Denny JA menemukan fakta bahwa Indonesia telah memenuhi syarat untuk membuka kembali aktivitas warga dan ekonomi.

Kendati demikian, menurut Denny JA, hal ini tidak dapat dilakukan serentak di seluruh wilayah Indonesia."Ia harus dilakukan secara bertahap karna grafik kasus setiap wilayah berbeda-beda, setelah PSBB diberlakukan," ungkap Denny JA dalam siaran pers yang dipublikasikan di laman Facebook Denny J.A's World, Sabtu (16/5/2020) malam.

Menurutnya, wilayah yang sudah layak dibuka kembali termasuk Jakarta yang merupakan pusat ekonomi dan bisnis Indonesia.

Ikuti kami di
Add Friend
Penulis: Reynas Abdila
Editor: Choirul Arifin
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas