Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Dampak Covid-19 Pada Sektor Pariwisata Berpotensi Hilangkan Devisa Sebesar 4 Miliar Dolar AS

Dampak Covid-19 kepada sektor pariwisata adanya devisa yang hilang pada Januari hingga April 2020 sebesar 4 miliar dolar

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Dampak Covid-19 Pada Sektor Pariwisata Berpotensi Hilangkan Devisa Sebesar 4 Miliar Dolar AS
SERAMBI INDONESIA DAILY/SERAMBI/HENDRI
WISATA SABANG - Susana lokasi liburan di Iboih, Sabang, Minggu (12/7/2020). Sejumlah objek wisata pantai di Sabang mulai terbuka untuk umum, namun sepi pengunjung dampak dari pandemi COVID-19. (SERAMBI INDONESIA/HENDRI) 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Hari Darmawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Presiden Komisaris PT Hotel Sahid Jaya Internasional, Hariyadi Sukamdani, mengatakan dampak terhantamnya sektor pariwisata oleh Covid-19 sangat besar.

Menurutnya, akibat dampak Covid-19 kepada sektor pariwisata adanya devisa yang hilang pada Januari hingga April 2020 sebesar 4 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

"Kemudian adanya potensi hilangnya pajak dan retribusi daerahjuga bisa terjadi, karena pariwisata berhenti beroperasi," ucap Hariyadi dalam diskusi online, Jumat (17/7/2020).

Selain itu Hariyadi juga mengungkapkan, akibat dampak Covid-19 setidaknya lebih dari 2 ribu hotel dan 8 ribu restoran tutup.

"Hal ini berpotensi hilangnya pendapatan pada Januari hingga April 2020 untuk sektor hotel Rp 30 triliun dan restoran Rp 40 triliun," ucap Hariyadi.

Bukan hanya industri hotel dan restoran saja, lanjut Hariyadi, industri penerbangan dan tour operation juga menanggung imbas akibat dampak Covid-19 di sektor pariwisata.

Rekomendasi Untuk Anda

"Tour operation saat ini rugi hingga Rp 4 triliun, dan maskapai penerbangan harus menanggung rugi hingga 812 juta dolar AS," ucap Hariyadi.

Hariyadi juga menjelaskan, apabila dampak Covid-19 ini butuh waktu lama untuk mengatasi bukan tidak mungkin angka kerugian ini akan bertambah.

"Kemungkinan juga terjadinya pemutusan hubungan kerja sebesar 30 sampai 40 persen dari jumlah pekerja saat ini, dan perusahaan pastinya akan tidak memperpanjang karyawan kontrak yang telah habis masa kontraknya untuk menstabilkan keuangan," ujar Hariyadi

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas