Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Investor Dinilai Ambil Langkah Aman Jelang Lebaran, IHSG Berpotensi Tertekan

Investor ambil langkah aman menjelang libur Lebaran serta implikasi larangan mudik yang kembali terjadi menekan IHSG.

Investor Dinilai Ambil Langkah Aman Jelang Lebaran, IHSG Berpotensi Tertekan
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Pengunjung melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (30/12/2020). Pada penutupan akhir tahun IHSG ditutup melemah 0,95% ke level 5.979,07. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada hari ini diperkirakan berpotensi kembali bergerak tertekan menguji support dengan rentang 5.903 hingga 5.952.

Kepala Riset PT Reliance Sekuritas Lanjar Nafi mengatakan, IHSG akhir pekan lalu bergerak break out support moving average 5 hari.

"Ini setelah gagal break out resistance moving average 20 hari yang memberikan indikasi tekanan pelemahan yang masih akan berlanjut. Indikator RSI dan stochastic memberikan arah momentum yang melemah meskipun kondisi undervalue indikator MACD cukup rendah," ujar dia melalui risetnya, Senin (10/5/2021).

Lanjar menilai investor ambil langkah aman menjelang libur Lebaran serta implikasi larangan mudik yang kembali terjadi menekan IHSG.

Baca juga: IHSG Melemah 1,12 Persen Sepekan Jelang Lebaran

"Selain itu, adanya kekhawatiran pengurangan stimulus Amerika Serikat (AS) yang berpengaruh kepada capital outflow dan nilai tukar rupiah hingga tren instrumen investasi baru yakni mata uang kripto," katanya.

Di sisi AS, dia menambahkan, saham-saham produsen energy, real estat, dan industri memimpin penguatan hingga berbaliknya sektor tekonologi yang sebelumnya alami tekanan.

Kemudian, data ketenagakerjaan di AS di bawah ekspektasi hingga dapat memberikan dorongan agenda ekonomi 6 triliun dolar AS dari Presiden Joe Biden.

"Lalu, juga alasan The Fed mempertahankan sikap akomodatifnya terhadap kebijakan moneter. Selain itu, investor akan terfokus pada data tingkat inflasi China dan berhati-hati akan penutupan market dalam negeri akibat libur Lebaran," pungkas Lanjar.

Ikuti kami di
Penulis: Yanuar Riezqi Yovanda
Editor: Dewi Agustina
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas