Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun Bisnis
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pasar Belum Stabil, Pengamat: Investor Perlu Selektif Koleksi Saham Grup Bakrie 

Saham-saham grup Bakrie seperti Bakrie Brother, Bakrie Telecom, juga Bumi resources hampir mirip, bergerak volatile.

Pasar Belum Stabil, Pengamat: Investor Perlu Selektif Koleksi Saham Grup Bakrie 
Tribunnews/Jeprima
Karyawan beraktivitas di antara layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta Selatan, Jumat (25/9/2020). Tribunnews/Jeprima 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTAPergerakan saham-saham Grup Bakrie cenderung stagnan ditengah tren pemulihan juga perbaikan ekonomi, juga perbaikan harga harga komodoitas. Misal saham Bakrieland (ELTY) hampir berbulan bulan di harga 50 perak.

Sementara saham Bakrie Sumatera Plantation (UNSP) cenderung melemah meski tren komoditas membaik, dengan tren ekuitas juga negatif. Saham lain, seperti Bakrie Brother, Bakrie Telecom, juga Bumi resources hampir mirip, bergerak volatile.

Mengutip Kontan, Bursa Efek Indonesia (BEI) memperingatkan potensi delisting atas saham PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL). Peringatan potensi delisting ini mengingat suspend saham BTEL yang telah mencapai lebih dari 24 bulan atau dua tahun.

Saham Bakrie Telecom telah disuspensi selama 24 bulan pada tanggal 27 Mei 2021 sehingga berdasarkan ketentuan III.3.1.2 Peraturan Bursa Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Bakrie Telecom telah memenuhi kriteria penghapusan pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia," ungkap BEI dalam pengumuman bursa pada 27 Mei lalu.

Baca juga: IHSG Kembali di Jalur Penguatan, Saham Ini Bisa Dilirik

Menanggapi hal ini,pengamat ekonomi Ucok Pulungan berpendapat, dengan kondisi fundamental yang cenderung berat di Grup Bakrie, bahkan harga sahamnya cenderung stagnan, investor perlu berhati-hati.

Ucok Pulungan mengatakan, tekanan harga komoditas, ditambah laporan keuangan yang buruk, serta besarnya utang yang harus dibayar tentu para investor harus berhati-hati.

Baca juga: PP Presisi Bagikan Dividen Rp 11,7 Miliar ke Pemegang Saham

"Investor tentunya harus berhati-hati, karena kondisinya gak menunjukan trend naik. Bagaimana pun nanti penanam saham yang menanggung," kata Ucok, saat dihubungi wartawan, Rabu (9/6/2021).

Investor, kata Ucok, sebaiknya menunggu saat yang tepat, dan benar-benar melihat perkembangan emiten di Grup Bakrie, juga emiten lain. Karena trend gelobal menujukan pemulihan ekonomi belum sepenuhnya stabil.

Baca juga: Emiten MRAT Catat Penjualan Bersih Rp 318,4 Miliar

Dia menyarankan agar investor beralih ke saham-saham sektor konsumer dan infrastruktur yang kecenderungannya naik belakangan ini.

"Pada komoditas internasional, sektor konsumer dan infrastruktur cenderung defensif terhadap ekonomi global," beber dia.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas