Tribun Bisnis

Melambungnya Harga LNG Jadi Peluang Untuk Keruk Devisa

Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro mengatakan, kenaikan harga komoditas LNG hampir serupa dengan batubara.

Editor: Hendra Gunawan
Melambungnya Harga LNG Jadi Peluang Untuk Keruk Devisa
Tribunnews.com/Hendra Gunawan
Unit penampungan dan regasifikasi terapung (floating storage and regasification unit/FSRU) di Kepulauan Seribu, Jakarta 

Sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) sukses menjual 4 uncommited cargo dari Kilang Bontang ke pasar spot dengan harga cukup tinggi.

Deputi Keuangan dan Monetisasi SKK Migas Arief S. Handoko mengatakan, penjualan 4 uncommited cargo ini dilakukan pada September 2021 dan mendorong peningkatan penerimaan.

Baca juga: Optimalkan PLTA untuk Energi Terbarukan, Ini Tantangan Utama Indonesia

"Dengan rata-rata harga lebih dari 27 dolar AS per MMBTU, dengan estimasi penerimaan sekitar 250 juta dolar AS," kata Arief kepada Kontan.co.id, Selasa (12/10).

Di sisi lain, hingga kuartal III 2021 total produksi LNG mencapai 149,5 standar kargo.

Perolehn ini turun tipis 3,85 persen year on year (yoy) dari produksi periode sama ditahun sebelumnya yang sebesar 155,5 standar kargo.

Kata Arief, dari 149,5 standar kargo produksi pada sembilan bulan pertama, sebanyak 105,6 standar kargo diperuntukan untuk pasar ekspor.

Sementara sisanya sebanyak 43,9 standar kargo dialokasikan untuk pembeli domestik.

"Untuk domestik, sebanyak 42,3 standar kargo (sekitar 96 persen) untuk kelistrikan," terang Arief.

Sementara sisanya sekitar 1,6 standar kargo digunakan sektor industri termasuk pabrik pupuk. (Filemon Agung)

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul: Harga LNG yang melambung jadi peluang bagi Indonesia

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas