Tribun Bisnis

HIPMI Dukung Integrasi Budidaya Udang Sebagai Percepatan Blue Economy di Indonesia

Shrimp estate merupakan skema budidaya udang berskala besar di mana proses hulu hingga hilir berada dalam satu kawasan.

Penulis: Malvyandie Haryadi
Editor: Sanusi
HIPMI Dukung Integrasi Budidaya Udang Sebagai Percepatan Blue Economy di Indonesia
istimewa
Ketua Bidang Pertanian, Perikanan, Kehutanan, dan Lingkungan Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), Robert Muda Hartawan. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Malvyandie

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan produksi udang nasional sebanyak 2 juta ton per tahun pada 2024.

Di tahun ini KKP sudah berkolaborasi dengan Pemda Kebumen untuk pengembangan kawasan budidaya udang terintegrasi (shrimp estate) di wilayah tersebut dengan membangun 100 hektar tambak udang modern.

Shrimp estate merupakan skema budidaya udang berskala besar di mana proses hulu hingga hilir berada dalam satu kawasan.

Baca juga: KKP: PNBP Pasca Produksi Solusi Berantas Praktik Mark Down Kapal

Proses produksinya pun didukung oleh teknologi agar hasil panen lebih optimal, mencegah penyakit, serta lebih ramah lingkungan yang sesuai dengan konsep budidaya terintegrasi.

Ketua Bidang Pertanian, Perikanan, Kehutanan, dan Lingkungan Hidup Badan Pengurus Pusat (BPP) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia, Robert Muda Hartawan menyampaikan Udang salah satu yang berkontribusi siginifikan dalam peningkatan eksport produk perikanan, kebutuhan industri dan konsumsi dalam negeri, sehingga pengembangan kawasan budidaya udang terintegrasi dari hulu hingga hilir ini menjadi langkah strategi dalam pengembangan blue economy di Indonesia.

Baca juga: 3 Kapal Nelayan RI Dibakar, KKP Tunda Patroli Bersama Pasukan Perbatasan Australia

“Sebagai langkah awal, KKP harus terus berkolaborasi dengan daerah-daerah untuk pengembangan kawasan budidaya udang terintegrasi (shrimp estate) di wilayah strategis Indonesia. Pembangunan fisik harus memperhatikan kelengkapan infrastruktur utama meliputi petak produksi, tandon, water intake, saluran outlet, IPAL, laboratorium, hingga jalan produksi,” ungkap Robert pada Selasa (9/11/2021) kemarin.

Robert mengungkapkan, lokasi-lokasi tambak udang modern tersebut harus juga dibangun water intake, terdapat tandon, water treatment dan menjaga kelestarian manggrove.

Baca juga: HUT Ke-22, KKP Kembangkan Modelling Tambak Udang Modern Pertama di Indonesia

Kolam tambak pembudidayaan terintegrasi ini juga harus memiliki Instalasi Pengolaan Air Limbah (IPAL) untuk membuang sisa-sisa pakan dan sisa bahan lain yang tidak langsung dibuang ke laut tetapi melalui sebuah treatment.

“Indonesia yang memiliki garis pantai terpanjang kedua di dunia yang mencapai 95.000 kilometer. Dengan potensi besar yang dimiliki sektor kelautan Indonesia masih perlu dioptimalkan dengan penerapan konsep blue economy," ujar Robert.

Blue economy sebagai suatu konsep yang mendorong penggunaan sumber daya laut secara berkelanjutan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi, sehingga meningkatkan kesejahteraan dan lapangan pekerjaan dengan tetap menjaga kualitas ekonomi dan ekosistem laut.

"Secara geopolitik dan geostrategis bagi Indonesia blue economy ini dapat dinilai dengan kapasitas kewilayahan laut yang memberikan posisi Indonesia menjadi strategis dengan basis kelautan salah satunya melalui pengembangan kawasan integrasi budidaya udang ini,” tutup Robert.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas