Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Susah Payah Garuda Selamatkan Diri Dari Krisis, Kini Terancam Delisting Dari Bursa Efek

Saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (Perseroan) telah disuspensi selama 6 bulan dan masa suspensi akan mencapai 24

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Susah Payah Garuda Selamatkan Diri Dari Krisis, Kini Terancam Delisting Dari Bursa Efek
airlines-inform.com
Pesawat Garuda Indonesia 

Dia menjelaskan bahwa saat ini GIAA memiliki utang mencapai US$ 9,8 miliar. Negosiasi tak bisa dilakukan dalam waktu yang singkat lantaran GIAA memiliki total sekitar 800 kreditur.

Sebagai bagian dari restrukturisasi, Garuda Indonesia menawarkan win win solutions sehingga nantinya bisa mencapai kesepakatan pada titik sustainable debt.

Sehingga pengelolaan utang mampu dibayar dengan new business plan yang dijalankan GIAA.

Untuk mendukung perbaikan kinerja, Garuda berharap ada pemulihan jumlah penumpang yang signifikan pada tahun depan.

"Kami harapkan traffic recovery akan mulai tumbuh pada tahun depan mencapai 40%. Kemudian 2023 meningkat lagi dan diharapkan pada 2024 dengan pandemi yang berlalu, traffic recovery akan kembali normal," tandas Prasetio.

New Garuda Business Plan Dalam kesempatan yang sama, Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra mengatakan bahwa proposal restrukturisasi awal yang telah disampaikan kepada sebagian besar kreditur disusun berdasarkan new business plan yang dijalankan Garuda Indonesia.

Adapun poin pokok dalam New Garuda Business Plan tersebut bertumpu pada tiga prinsip, yakni: simple, profitable, dan full service. Tiga prinsip tersebut direalisasikan ke dalam empat strategi.

Rekomendasi Untuk Anda

Pertama, mengoptimalkan route network, sehingga Garuda Indonesia hanya akan mengoperasikan rute-rute penerbangan yang menguntungkan (profitable).

Dalam pemilihan rute ini, fokus Garuda tertuju pada rute-rute penerbangan domestik, serta rute-rute internasional tertentu yang juga mempertimbangkan penerbangan kargo.

Kedua, menyesuaikan jumlah pesawat Garuda dan Citilink agar selaras dengan route network yang telah dioptimalkan.

Hal ini dilakukan berbarengan dengan simplifikasi tipe pesawat untuk mendapatkan efektifitas dan efisiensi operasional.

"Kami ambil pendekatan berbeda dari sebelumnya, yang menyediakan pesawat sebanyak-banyaknya. Pengalaman mengajarkan, itu tak terlalu tepat. Kami akan sesuaikan (pesawat) dengan demand yang ada.

Memang, ada angka-angka yang kami masukkan dalam business plan, tapi saat ini masih menunggu hasil negosiasi maupun PKPU," jelas Irfan.

Selanjutnya, strategi ketiga dalam New Garuda Business Plan ialah melakukan renegosiasi kontrak sewa pesawat dengan mengupayakan untuk bisa memperoleh skema berbasis variable cost.

Sedangkan strategi keempat adalah meningkatkan kontribusi pendapatan kargo melalui optimalisasi belly capacity dan digitalisasi operasional.

"Jadi business plan kami nomor satu itu profitable, bukan ekspansi, bukan terbang kemana-mana dengan pesawat sebanyak-banyaknya.

Kami akan menyederhanakan pesawat, menyesuaikan jumlah pesawat sesuai demand, dan hanya akan terbang kalau (rute) itu profitable," tegas Irfan. (Tribunnews.com/Seno Tri/Kompas.com/Ridwan Nanda Mulyana)

Halaman 3/3
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas