Tribun Bisnis

Harga Batubara Meroket, Pengamat: Pengusaha Jangan Rakus Ekspor

peluang pasar ekspor batubara di Eropa, yang selama ini dipasok Rusia, semakin terbuka untuk pengusaha tanah air

Penulis: Yanuar R Yovanda
Editor: Muhammad Zulfikar
zoom-in Harga Batubara Meroket, Pengamat: Pengusaha Jangan Rakus Ekspor
Tribunkaltim.co/Geafry Necolsen
Aktivitas pertambangan batubara di Kalimantan Timur. Harga Batubara Meroket, Pengamat: Pengusaha Jangan Rakus Ekspor 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Yanuar Riezqi Yovanda

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Perang Rusia-Ukrania tidak hanya menyebabkan melonjaknya harga minyak dan gas (migas) dunia,tapi juga menyulut meroketnya harga batubara.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada Fahmy Radhi mengatakan, Rusia termasuk negara pengekspor batubara terbesar ke negara-negara Eropa.

"Kenaikan harga migas juga mendorong negara-negara Eropa kembali menggunakan batubara untuk pembangkit listrik, sehingga menaikkan permintaan," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (7/3/2022).

Baca juga: Harga Batubara Melambung, Produsen Berusaha Optimalkann Pasokan

Fahmy mengungkapkan, harga batubara telah naik sebesar 38,22 persen secara bulanan atau month to month pada Februari 2022.

Tidak berhenti sampai di situ, pada awal Maret 2022, harga batu bara kembali meroket mencapai 446 dolar Amerika Serikat (AS) per metrik ton.

Berbeda dengan kenaikkan harga migas, meroketnya harga batubara dinilai sangat menguntungkan bagi Indonesia, yakni menaikkan perolehan devisa bagi negara dan pengusaha untuk meraub laba dalam jumlah besar.

"Dengan harga pokok produksi antara 30 dolar AS hingga 40 dolar AS per metrik ton, keuntungan besar sudah di tangan. Kenaikan laba yang besar itu sudah pasti akan menaikan harga saham bagi semua emiten perusahaan batu bara, yang menjual sahamnya di pasar modal," kata Fahmy.

Bahkan, menurutnya peluang pasar ekspor batubara di Eropa, yang selama ini dipasok Rusia, semakin terbuka untuk pengusaha tanah air.

Baca juga: Harga Melonjak, Perusahaan Angkutan Udara Ekspansi ke Sektor Batubara

"Hanya, pengusaha batubara jangan rakus dalam meraup keuntungan dengan mengekspor seluruh produksi, tanpa memasok batu bara ke PLN, yang menyebabkan krisis batubara di PLN seperti terjadi sebelumnya," tutur dia.

Seperti diketahui dalam ketentuan Domestic Market Obligation (DMO), pengusaha wajib menjual batu bara ke PLN sebesar 25 persen dari total produksi dengan harga 70 dolar AS per metrik ton.

"Kalau pengusaha serakah hingga mengabaikan DMO, krisis batu bara di PLN pasti akan kembali terulang," pungkas Fahmy.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas