Tribun Bisnis

Kamis Pagi Rupiah Menguat Tipis, Pagi Ini di Level Rp14.960

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada Kamis pagi (7/7/2022) terpantau menguat ke level Rp14.960 per dolar AS.

Penulis: Bambang Ismoyo
Editor: Choirul Arifin
zoom-in Kamis Pagi Rupiah Menguat Tipis, Pagi Ini di Level Rp14.960
WARTA KOTA/WARTA KOTA/HENRY LOPULALAN
Karyawan merapikan tumpukan uang tunai pecahan kecil dan besar di cash pooling Bank Mandiri, Jalan Gatot Subroto, Jalarta Selatan, Jumat (7/5/2021). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis pagi (7/7/2022) terpantau menguat. WARTA KOTA/HENRY LOPULALAN 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Kamis pagi (7/7/2022) terpantau menguat.

Melansir data Bloomberg (pada pukul 09.21), rupiah berada di level Rp14.960 per dolar AS.

Pada penutupan kemarin (6/7/2022), merujuk informasi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, tercatat nilai tukar Rupiah di level Rp15.015 per dolar AS.

Sebelumnya, Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, pelemahan mata uang Garuda masih akan berlanjut.

Faktor pelemahan Rupiah yang berlanjut karena pasar keuangan masih dibayangi sentimen negatif.

Investor terus mencermati risiko kenaikan Fed rate terhadap Indonesia sehingga melakukan penjualan aset berisiko tinggi. Keluarnya dana asing juga dipicu data inflasi Juni yang cukup tinggi sejak 2017 menjadi kekhawatiran risiko stagflasi.

Apalagi BI masih menahan suku bunga tentu risk nya naik di market.

Kondisi likuiditas di dalam negeri bisa mengetat apabila pelemahan kurs terus terjadi. Karena pelemahan kurs menunjukkan adanya tekanan arus modal asing yang keluar.

Baca juga: Rupiah Tembus Rp 15 ribu Per Dolar AS, Indonesia Harus Waspada Lonjakan Harga Pangan Impor

“Cadangan devisa akan semakin tertekan disaat arus modal keluar tinggi sekaligus kinerja ekspor komoditas mulai terkoreksi,” ucap Bhima kepada Tribunnews, Rabu (6/7/2022).

“Salah satu alasan pelemahan rupiah karena BI masih menahan suku bunga. Ditahannya suku bunga acuan membuat spread imbal hasil US Treasury dengan surat utang SBN semakin menyempit. Idealnya suku bunga sudah naik 50 basis poin sejak Fed lakukan kenaikan secara agresif,” sambungnya.

Baca juga: Pelemahan Rupiah Bersifat Jangka Menengah, Rupiah Diprediksi Sentuh Level 14.750 di Akhir Tahun

Bhima juga mengatakan, pelemahan kurs dikhawatirkan memicu imported inflation atau kenaikan biaya impor terutama komoditas pangan.

Sejauh ini imported inflation belum dirasakan karena produsen masih menahan harga di tingkat konsumen.

“Tapi ketika beban biaya impor sudah naik signifikan akibat selisih kurs maka imbasnya ke konsumen juga,” pungkasnya.


© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas