Dibayangi Resesi Global, Analis Optimistis Ekonomi dan Pasar Modal RI Masih Ekspansif
Indonesia dinilai punya pengalaman yang cukup baik terkait resesi global dan memiliki ketahanan fundamental yang cukup kuat
Editor:
Sanusi
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Sejumlah analis dan pelaku market di Tanah Air optimistis kondisi ekonomi dan pasar modal di Indonesia masih ekspansif, kendati dunia dibayangi resesi.
Indonesia dinilai punya pengalaman yang cukup baik terkait resesi global dan memiliki ketahanan fundamental yang cukup kuat, sehingga kondisi tersebut menjadi sentimen positif bagi kinerja pasar modal domestik.
Founder Forum Saham & Beta Trader, Yuza Sha mengungkapkan Amerika Serikat (AS) dibayangi resesi dalam beberapa bulan terakhir ini, yang ditandai dengan adanya inversi yield.
Baca juga: Konsumen Zona Euro Bersiap Menghadapi Resesi dan Inflasi Tinggi
“Perbandingan antara surat utang jangka pendek dan jangka panjang AS yang normal itu terakhir terjadi pada 2021, di mana surat utang jangka pendek akan lebih kecil yield-nya ketimbang yang jangka Panjang. Jika sebaliknya terjadi, maka perekonomian tengah mengalami resesi. Ini bisa menjadi salah satu indikator,” terang Yuza Sha dalam diskusi daring Investment Talk bertajuk “Indonesia Capital Market in Global Recession”, Minggu (7/8/2022).
Seperti diketahui, perekonomian dunia dibayangi resesi, yang diakibatkan oleh kondisi geopolitik global dan isu perang, inflasi yang meningkat, hingga krisis energi. Bayang-bayang resesi global telah digambarkan Dana Moneter Internasional (IMF) yang kembali memangkas pertumbuhan ekonomi dunia ke angka 3,2 persen. Penurunan ini akibat adanya inflasi yang tinggi di sejumlah negara, di antaranya AS.
Baca juga: Inggris Siap-siap Masuk Jurang Resesi, Kenaikan Suku Bunga Cetak Rekor, Bagaimana dengan Ekonomi RI?
Perekonomian AS dihantui inflasi yang cukup tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang terkontraksi. Posisi terakhir inflasi berada di angka 9,1 persen, tertinggi dalam empat tahun terakhir, dan pertumbuhan ekonomi per Agustus 2022 berada di minus 1 persen.
Sebagai respons kondisi tersebut, Bank Sentral Amerika (The Federal Reserve/The Fed) melakoni kebijakan menaikan suku bunga acuan (interest rate). Hal ini tentu akan berdampak pada perekonomian negara lainnya.
Namun Yuza menilai Indonesia telah memiliki pengalaman yang cukup baik terkait resesi global, dan memiliki ketahanan yang cukup kuat. Terbukti, pada krisis 2008 akibat subprime mortgage, Indonesia menjadi salah satu negara dari 5 negara yang tidak terdampak. Kemudian, pada proyeksi resesi global kali ini, Indonesia juga diproyeksikan oleh Bank Dunia sebagai salah satu negara potensi terdampaknya rendah, yakni sebesar 3 persen.
Fundamental perekonomian Indonesia yang dinilai masih cukup kuat tergambar dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada kuartal II 2022 tumbuh sebesar 5,44 persen. Dengan tingkat inflasi mencapai 4,94 persen secara tahunan. Bank Indonesia (BI) telah menyatakan bahwa inflasi inti masih terjaga dengan baik.
Sementara itu, Maryadi Laksmono, Founder Mal Asociates, mengatakan bahwa sejatinya krisis energi telah dirasakan mulai akhir 2021.
“Di tengah potensi resesi global, Indonesia dan India menjadi beberapa negara yang terdampak minimal. Mengapa demikian? Karena kebijakan fiskal dan moneternya sama, yakni melakukan subsidi kepada kelas menengah ke bawah,” jelas Maryadi.
Bagi Maryadi, hal yang perlu diperhatikan ialah kondisi negara mitra dagang Indenesia, di mana yang terbesar itu AS dan China. Jika kedua negara besar itu mengalami resesi, maka permintaan barang atau produk dari kedua negara akan berkurang.
“Namun demikian, lagi-lagi, kalau dilihat kita masih jauh dari imbas resesi. Ekonomi kita ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Malah kita tengah ekspansi. Kemudian, secara balance sheet kita juga diuntungkan dengan adanya peningkatan harga komoditas karena kita menjadi salah satu negara pengekspor.
Di luar itu, Indeks Kepercayaan Konsumen masih di atas 100, yakni 128,2 per April 2022, dan Purchasing Manager Indes (PMI) juga masih di atas angka 50,” beber Maryadi.
IHSG dan Sektor Unggulan
Baca tanpa iklan