Tribun Bisnis

Prediksi Pasar Saham di Kuartal Keempat, Inflasi Global Masih Perlu Diwaspadai Investor

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji menuturkan pasar saham Indonesia masih menarik sampai akhir tahun ini

Editor: Muhammad Zulfikar
zoom-in Prediksi Pasar Saham di Kuartal Keempat, Inflasi Global Masih Perlu Diwaspadai Investor
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawan melihat pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/8/2022). Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menyebut tingkat inflasi secara global menjadi hal yang perlu diwaspadai oleh investor pada kuartal keempat mendatang. 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee menyebut tingkat inflasi secara global menjadi hal yang perlu diwaspadai oleh investor pada kuartal keempat mendatang.

Misalnya, inflasi AS menyentuh 8,3 persen pada Agustus 2022. Sementara, inflasi Inggris mencapai 9,9%. Dari dalam negeri, inflasi Indonesia mencapai 4,69%.

Hans memproyeksikan inflasi Indonesia berpotensi meningkat sebesar 1,8%-1,9% pada September akibat adanya kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM). Artinya inflasi dalam negeri bisa mencapai 5,89%.

Baca juga: Pasar Saham Terus Anjlok, Goldman Sachs : Suasana Suram di Wall Street Terus Berlanjut

“Dalam negeri suku bunga masih berpotensi naik 25 basis poin karena salah satunya ada inflasi tinggi, yang mana dapat tiga bulan ke depan inflasi akan masih naik,” kata Hans seperti dikutip dari Kontan.

Selain itu, kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI) juga diperlukan untuk menjaga stabilitas rupiah yang sempat melemah. Sampai akhir tahun, Hans memprediksi suku bunga BI akan bisa mencapai di level 4,5% sampai 4,75%.

Kenaikan suku bunga ini juga tak hanya berjadi di dalam negeri. Apa lagi, The Fed masih berpotensi untuk menaikkan suku bunga dalam dua pertemuan mendatang. Di tambah, bank sentral Inggris (BoE) sudah menaikkan suku bunga menjadi 2,25%.

“Dari dalam negeri sebenarnya lebih kepada stabilitas inflasi dan daya beli masyarakat yang bisa terjaga atau tidak,” ucap dia.

Di sisi lain, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksi bergerak cenderung dengan volatilitas yang tinggi. Hans memproyeksi IHSG akan menyentuh level 7.300–7.400 pada akhir 2022 ini.

Volatilitas pergerakan IHSG ke depannya juga akan dipengaruhi oleh keputusan The Fed dan kenaikan suku bunga. Dia menyarankan investor untuk cenderung wait and see sampai ada koreksi di kisaran 7.000.

Baca juga: Analis Pasar Saham Sebut Sentimen Nilai Tukar Rupiah Pengaruhi Kekuatan IHSG

“Wait and see sampai pasar sedikit koreksi, kalau inflasi tinggi akan cenderung ada outflow,” tutur Hans.

Adapun Hans merekomendasikan sektor konsumer dan perbankan. Dia bilang saham big caps, kecuali teknologi bisa dimanfaatkan untuk buy on weakness.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji menuturkan pasar saham Indonesia masih menarik sampai akhir tahun ini. Asalkan, pemerintah tidak melakukan menerapkan kebijakan moneter kontraktif.

“Apalagi beberapa negara di luar Indonesia juga sedang dihantui oleh kenaikan suku bunga dan inflasi yang membengkak. Bedanya, Indonesia masih punya fundamental yang kuat,” kata Nafan.

Hingga akhir tahun 2022, Mirae Asset Sekuritas Indonesia masih mempertahankan target IHSG di level 7.400. Prediksi ini berdasarkan asumsi bahwa laba perusahaan alias earning per share (EPS) dapat tumbuh sebesar 20% dengan price earning ratio (PE) 13,2 kali untuk tahun ini.

Sumber: Kontan

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas