Cadangan Devisa Global Turun Drastis Akibat Perubahan Kurs, Begini Dampaknya Bagi Indonesia
Indonesia masih memiliki cadangan devisa yang memadai meskipun per September 2022, cadangan devisa turun turun ke US$ 1308 miliar.
Editor:
Choirul Arifin
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Posisi cadangan devisa di berbagai negara kini turun drastis. Menurut laporan Bloomberg terbaru, cadangan mata uang asing telah turun sekitar US$ 1 triliun atau 7,8 persen di sepanjang tahun berjalan menjadi US$ 12 triliun.
Data ini merupakan penurunan terdalam sejak Bloomberg mulai mengumpulkan data pada 2003.
Kepala Penelitian Valuta Asing G10 Standard Chartered Steven Englander mengungkapkan, kondisi penurunan likuiditas ini didorong oleh perubahan nilai tukar.
Salah satunya, akibat penguatan dolar Amrika Serikat (AS) terhadap mata uang negara lain.
Selain itu, ada tekanan di pasar mata uang, yang memaksa makin banyak bank sentral untuk melakukan intervensi untuk menahan depresiasi mata uang mereka.
Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky memandang, ketatnya likuiditas global ini memang sehubungan dengan langkah yang dilakukan bank-bank sentral dunia untuk mengetatkan kebijakan moneternya.
Tentu, dampaknya akan berbeda antara satu negara dengan negara yang lain, termasuk Indonesia.
“Kalau di Indonesia, dampaknya masih akan terjadi arus modal asing keluar. Sehingga, akan memengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah,” tutur Riefky kepada Kontan.co.id, Minggu (9/10/2022).
Indonesia masih memiliki cadangan devisa yang memadai meskipun per September 2022, cadangan devisa turun turun ke US$ 1308 miliar.
Baca juga: Per September 2022, Cadangan Devisa Indonesia Turun Menjadi 130,8 Miliar Dolar AS
Namun, ini masih setara pembiayaan 5,9 bulan impor atau 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah. Pun masih jauh berada di atas standard kecukupan internasional yang sekitar 3 bulan impor.
Selain itu, ekspor Indonesia masih berotot di tengah tingginya harga komoditas andalan ekspor Indonesia.
Negara-negara yang akan terpukul adalah mereka yang memiliki cadangan devisa sedikit, sektor riil yang tidak solid, serta ekspor yang lemah.
Baca juga: Per Juni 2022, Cadangan Devisa Indonesia Rp 2.043 Triliun
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual membenarkan likuiditas valas saat ini cenderung ketat. Namun, ia masih melihat kondisi positif di Indonesia mengingat nilai ekspor yang masih akan tinggi setidaknya hingga akhir tahun 2022.
Hanya saja, ini memang tak akan bertahan selamanya. Apalagi di tahun depan, ada bayangan resesi sehingga menghambat potensi permintaan ekspor dari Indonesia dan normalisasi harga komoditas.
David mengimbau, otoritas getol dalam menjaga likuiditas valas dengan berbagai langkah.