Tribun Bisnis

Gejolak Rupiah

Rupiah Masih Berpotensi Melemah di Pekan Depan, Ada di Level Rp 15.600 per Dolar AS

Ibrahim Assuaibi mengatakan, meskipun menguat, rupiah pada Senin (31/10/2022) masih akan berfluktuasi dan cenderung melemah.

Penulis: Bambang Ismoyo
Editor: Sanusi
zoom-in Rupiah Masih Berpotensi Melemah di Pekan Depan, Ada di Level Rp 15.600 per Dolar AS
Tribunnews/JEPRIMA
Petugas menunjukkan uang rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Masagung Money Changer, Jakarta Pusat. perdagangan Senin besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 15.530 hingga Rp 15.600 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di level Rp 15.554 pada Jumat sore (28/10/2022).

Sebelumnya pada Kamis (27/10/2022) sore, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp 15.567

Jika dicermati lebih detail, nilai tukar mata uang Garuda menguat 13 poin.

Baca juga: Jumat Pagi Rupiah Menguat Terhadap Dolar AS, Berada di Level Rp 15.552

Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan, meskipun menguat, rupiah pada Senin (31/10/2022) masih akan berfluktuasi dan cenderung melemah.

"Dalam perdagangan akhir pekan ini, mata uang rupiah ditutup menguat 13 point walaupun sebelumnya sempat menguat 35 point di level Rp 15.554 dari penutupan sebelumnya di level Rp15.567," ucap Ibrahim dalam analisanya, (28/10/2022).

"Sedangkan untuk perdagangan Senin besok, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 15.530 hingga Rp 15.600," sambungnya.

Ibrahim mengungkapkan, fluktuasi rupiah pada pekan depan masih terdampak sentimen adanya wacana Bank Sentral AS alias The Fed, yang bakal menaikkan suku bunga.

Baca juga: Kamis Sore, Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Melemah Tipis ke Level Rp15.567

Untuk hari ini, penguatan rupiah utamanya terbantu faktor internal.

Penguatan rupiah terbantu sentimen laporan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat pada kuartal III 2022, yang ternyata berada di luar ekspektasi atau tumbuh 2,6 persen.

Tentu saja, ini menandakan ekonomi Paman Sam telah pulih dari kontraksi ekonomi yang terjadi pada paruh pertama tahun ini.

Membaiknya ekonomi AS memberikan gambaran bahwa resesi global kemungkinan hanya angin lalu dan akan memberikan dampak positif terhadap perekonomian negara-negara emerging market termasuk Indonesia.

"Walaupun ekonomi AS membaik, namun Pemerintah dan Bank Indonesia tidak akan bersenang-senang dulu, namun masih tetap waspada dan terus memperkuat pondasi perekonomiannya," pungkas Ibrahim.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas