Tribun Bisnis

Rupiah Pekan Depan Diprediksi Melemah, Kemungkinan ke Arah Rp15.700 per Dolar AS

Fluktuasi rupiah pada Senin masih terdampak berbagai sentimen, baik internal maupun eksternal.

Penulis: Bambang Ismoyo
Editor: Seno Tri Sulistiyono
zoom-in Rupiah Pekan Depan Diprediksi Melemah, Kemungkinan ke Arah Rp15.700 per Dolar AS
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Karyawan menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS di tempat penukaran uang di Jakarta. Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan masih akan mengalami pelemahan pada Senin (28/11/2022), yakni ke arah level Rp15.700. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan masih akan mengalami pelemahan pada Senin (28/11/2022), yakni ke arah level Rp15.700.

Sebelumnya pada Jumat (25/11/2022) sore, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp15.672

Pengamat Pasar Keuangan Ibrahim Assuaibi mengatakan, fluktuasi rupiah pada Senin masih terdampak berbagai sentimen, baik internal maupun eksternal.

Salah satunya indeks dolar AS yang masih cukup kuat, hingga adanya wacana kebijakan Bank Sentral AS alias The Fed, yang akan menaikkan suku bunga.

Baca juga: Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Melemah di Penghujung Pekan, Kini di Level Rp 15.672

"Dalam perdagangan akhir pekan, mata uang rupiah ditutup melemah 7 point walaupun sebelumnya sempat menguat 15 point dilevel Rp15.672 dari penutupan sebelumnya di level Rp15.665," ucap Ibrahim dalam analisanya, (25/11/2022).

"Sedangkan untuk perdagangan senen depan, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp15.650 hingga Rp15.700," sambungnya.

Sebelumnya pada kemarin, nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berada di level Rp15.672 pada Jumat sore (25/11/2022).

Jika dicermati lebih detail, nilai tukar mata uang Garuda melemah 7 poin. Dimana pada hari sebelumnya (24/11) rupiah di level Rp15.665

Ibrahim mengatakan, fluktuasi rupiah utamanya masih disebabkan sentimen internal dan juga eksternal.

Untuk faktor eksternal, nilai tukar rupiah terdorong kekhawatiran atas memburuknya kondisi Covid-19 di China yang merusak sentimen, meskipun beberapa unit regional masih ditetapkan untuk minggu yang lebih kuat karena sinyal kenaikan suku bunga yang lebih kecil oleh Federal Reserve membebani dolar.

"Perekonomian terbesar di Asia sedang berjuang dengan rekor tertinggi dalam kasus Covid-19 harian, yang melihat penerapan kembali pembatasan ketat di beberapa kota besar," ucap Ibrahim.

Ia kembali melanjutkan, risalah pertemuan November Federal Reserve menunjukkan bahwa bank sentral sedang mempertimbangkan laju kenaikan suku bunga yang lebih lambat dalam beberapa bulan mendatang.

Kenaikan suku bunga AS yang lebih kecil ini berpotensi berdampak positif untuk mata uang Asia, karena memberi bank sentral regional lebih banyak ruang untuk memperketat kebijakan dan menyesuaikan kecepatan dengan Fed.

Tetapi pasar masih tetap tidak yakin kapan suku bunga AS akan mencapai puncaknya.

Untuk faktor internal, pelemahan rupiah yang melemah tak begitu dalam, terdorong sentimen dunia yang mengakui bahwa perekonomian Indonesia terus membaik, bahkan melebihi ekspektasi.

Baca juga: Jumat Pagi Rupiah Melemah Tipis ke Level Rp 15.670 per Dolar AS

Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 5 persen berturut-turut selama empat kuartal.

Bahkan, kuartal III-2022 menunjukkan angka pertumbuhan ekonomi hampir 6 persen atau 5,72 persen (yoy).

Itu bisa di lihat dari kinerja pemulihan ekonomi yang masih tetap berjalan dan cukup kuat di tengah pandemi Covid-19. Pemulihan ekonomi yang terus berlanjut ini salah satunya ditopang oleh kinerja ekspor.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas