Tribun Bisnis

Sebut Kinerja Ekonomi Indonesia Kuat, Sri Mulyani: APBN Bekerja Luar Biasa Keras

Membaiknya kinerja ekonomi domestik tercermin dari pertumbuhan yang berada di atas 5 persen secara tahun ke tahun

Penulis: Bambang Ismoyo
Editor: Hendra Gunawan
zoom-in Sebut Kinerja Ekonomi Indonesia Kuat, Sri Mulyani: APBN Bekerja Luar Biasa Keras
Tribunnews/JEPRIMA
Bangunan gedung bertingkat yang menjulang tinggi di Jakarta, Kamis (24/11/2022). Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa pemulihan ekonomi Indonesia masih terus berjalan hingga di atas level prapandemi, bahkan menguat hingga kuartal III/2022. Tren pemulihan ekonomi Indonesia pun merupakan salah satu yang terkuat di antara negara G20 dan Asean-6. Perekonomian Indonesia sendiri, mencatatkan pertumbuhan di atas 5 persen selama empat kuartal berturut-turut. Jika diakumulasikan, level produk domestik bruto (PDB) riil Indonesia dari kuartal I hingga kuartal III tahun ini telah mencapai 6,6 persen, di atas level prapandemi pada 2019. Imbuhnya. Tribunnews/Jeprima 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pemulihan ekonomi Indonesia tercatat cukup baik jika dibandingkan dengan negara-negara lain.

Menurut bendahara negara, hal tersebut tidak terlepas dari kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang dikelola dengan baik dan cermat.

Membaiknya kinerja ekonomi domestik tercermin dari pertumbuhan yang berada di atas 5 persen secara tahun ke tahun (yaer on year) selama 4 kuartal secara beruntun.

Baca juga: Cerita Sukses Desa Bugisan: Majukan Desa Lewat Wisata, Mampu Gerakkan Ekonomi Warga

Kemudian, tingkat inflasi nasional terpantau di angka 5 persen, relatif lebih baik jika dikomparasi dengan negara lain yang berada di atas 10 persen.

"Dengan capaian ini, memang APBN bekerja luar biasa keras. Namun kita tetap mencermati bahwa terjadi perkembangan global yang perlu diwaspadai," ucap Sri Mulyani dalam acara Penyerahan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran 2023, (1/12/2022).

Menkeu juga mengungkapkan, optimisme pemulihan ekonomi perlu terus dijaga.

Namun pada saat yang sama, Indonesia juga perlu waspada terhadap risiko global yang berasal dari sejumlah permasalahan.

Mulai dari geopolitik, penerapan zero policy Covid-19 di Tiongkok, dampak pengetatan kebijakan moneter di negara maju dalam rangka mengendalikan inflasi, hingga kenaikan suku bunga global.

"Risiko ekonomi yang telah berubah. Dari ancaman pandemi sekarang menjadi ancaman financial yang membutuhkan respon berbeda dan kewaspadaan yang tinggi," pungkas Sri Mulyani.

Baca juga: OECD Prediksi Eropa Jadi Wilayah yang Paling Terpukul Perlambatan Ekonomi Global

Dalam kesempatan yang sama, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan Indonesia perlu waspada terhadap ancaman ketidakpastian global yang bakal berdampak terhadap perekonomian domestik.

Hal tersebut ditegaskan Jokowi meskipun sebelumnya Managing Director International Monetary Fund (IMF) Kristalina Georgieva menyatakan Indonesia merupakan titik terang di tengah kesuraman ekonomi dunia.

"Di tengah situasi ekonomi dunia yang sedang bergolak, Alhamdulillah ekonomi kita termasuk yang terbaik. Bahkan Managing Director IMF mengatakan di tengah dunia gelap, Indonesia adalah titik terang," ucap Jokowi.

"Tetapi sekali lagi perlu saya ingatkan kita tetap waspada dan hati-hati. Semuanya harus memiliki perasaan yang sama bahwa keadaan sekarang ini utamanya ekonomi global tidak pada berada di posisi yang normal," pungkasnya.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas