Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Hippindo Tak Khawatir dengan Persaingan Penjualan di Sosial Commerce

Para pelaku bisnis khususnya retail juga mengadopsi atau melakukan penjualan di e-commerce maupun social commerce.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Hippindo Tak Khawatir dengan Persaingan Penjualan di Sosial Commerce
Tribunnews/Bambang Ismoyo
Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah. Para pelaku bisnis khususnya retail juga mengadopsi atau melakukan penjualan di e-commerce maupun social commerce. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Ismoyo

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (Hippindo) tidak khawatir keberadaan social commerce, seperti TikTok Shop yang disebut menjadi ancaman bagi UMKM serta para pelaku usaha retail.

Ketua Umum Hippindo Budihardjo Iduansjah mengatakan, hal tersebut sah-sah saja.

Asalkan, social commerce ini mampu menjaga keaslian produk (original) hingga tidak merangkap sebagai penjual, alias hanya sebagai e-commerce.

Baca juga: TikTok Shop Dituding Ancam UMKM Lokal, Berikut Pendapat Para Pengamat Ekonomi Digital

Diketahui sekarang ini muncul fenomena digabungkannya platform e-commerce dengan sosial media.

Fenomena tersebut terjadi di Tiktok dengan nama program project Social commerce atau Project S, yang sebelumnya disebut-sebut akan masuk ke Indonesia.

"Sebenarnya asal e-commerce (atau pun social commerce) fokus selaku mall online yang menjaga produk yang dijual sudah sesuai peraturan, bila impor-impornya legal, bayar pajak resmi, standarisasi ada, mereknya asli, dan tidak merangkap sebagai seller tapi hanya sebagai ecomerce, maka harusnya tidak masalah," ungkap Budihardjo kepada Tribunnews, Selasa (12/9/2023).

Rekomendasi Untuk Anda

Terkait dampak kepada pelaku usaha retail, ia pun mengungkapkan bahwa tak sedikit pula yang melakukan penyesuaian dengan perkembangan zaman.

Dalam hal ini, para pelaku bisnis khususnya retail juga mengadopsi atau melakukan penjualan di e-commerce maupun social commerce.

"Ada plus minusnya terkait adanya social commerce, yang pasti kami sektor offline selalu update mengikuti teknologi," papar Budihardjo.

Dirinya pun mendukung penuh adanya social commerce jika pada prinsipnya turut membantu mengakselerasi penjualan produk-produk lokal.

"Kalau membantu menjual produk dan brand lokal maka sangat baik," pungkas Budihardjo.

Seperti diberitakan sebelumnya, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengatakan, banyak pelaku UMKM dari berbagai sektor yang mengeluh padanya karena kalah saing di social commerce.

Zulhas menyebut, social commerce bisa mengidentifikasi preferensi dari konsumennya, kemudian diarahkan ke produk mereka sendiri.

"Social commerce itu bahaya juga. Dia bisa mengidentifikasi pelanggan dengan big datanya. Ibu ini suka pakai bedak apa, suka pakai baju apa," ujarnya.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas