Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Ekonom Sebut Harga BBM dan Beras Bakal Melonjak Imbas Perang Hamas Vs Israel, Ini Indikatornya

Pilihan pemerintah apakah alokasi subsidi energinya naik atau diteruskan ke masyarakat membayar BBM lebih tinggi.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Ekonom Sebut Harga BBM dan Beras Bakal Melonjak Imbas Perang Hamas Vs Israel, Ini Indikatornya
Warta Kota/ANGGA BHAGYA NUGRAHA
Petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Konflik di timur tengah yang memanas bisa menaikkan harga minyak mentah hingga 90-92 dolar AS per barrel. Saat ini dipasar spot harga minyak berkisar 83 dolar AS per barrel. 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Dennis Destryawan

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -- Direktur Center of Economi and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira memaparkan konflik Palestina VS Israel akan memberikan dampak bagi pasar keuangan, Bahan Bakar Minyak (BBM), hingga beras di Indonesia.

"Dampak dari konflik Israel-Palestina akan memicu investor lakukan pergeseran ke aset yang aman," ujar Bhima saat dihubungi, Selasa (10/10/2023).

Pergeseran tersebut akan memicu dolar AS menguat secara jangka pendek.

Baca juga: Perang Hamas Vs Israel, Apa Dampaknya ke Ekonomi Indonesia? Ini Kata Ekonom

Dolar indeks misalnya menguat ke level 106. Rupiah bersiap alami depresiasi terhadap dollar AS. Harga harga barang impor akan semakin mahal khususnya pangan.

"Contohnya beras, meskipun ada negara yang siap jual ke Indonesia tapi biaya impor berasnya dipengaruhi dolar AS sehingga beras impor harganya naik," kata Bhima.

Selain beras impor, harga BBM akan lebih mahal.

Rekomendasi Untuk Anda

Menurut Bhima, pilihan pemerintah apakah alokasi subsidi energinya naik atau diteruskan ke masyarakat membayar BBM lebih tinggi.

"Inflasi menjadi ancaman serius bagi daya beli domestik. Dampak lain adalah ketidakpastian bonanza komoditas apakah akan terus berlanjut," terang Bhima.

Konflik di timur tengah yang memanas bisa menaikkan harga minyak mentah hingga 90-92 dolar AS per barrel. Saat ini dipasar spot harga minyak berkisar 83 dolar AS per barrel.

"Meski naik tetap belum mampu menandingi harga saat krisis minyak mentah 1973 yang saat itu menembus rekor kenaikan tertinggi dari 2 dollar AS per barrel menjadi 11 dollar AS per barrel atau naik 450 persen," tutur Bhima

Bhima mengatakan, faktor politik dan keamanan memang punya andil, tapi pasar minyak akhir-akhir ini cenderung mengalami anomali pasokan dan permintaan sekaligus.

Beberapa faktor yang membuat harga minyak tidak seliar 1973 adalah relaksasi pembatasan ekspor minyak dari Rusia yang diperkirakan menambah pasokan minyak global.

"Kemudian belum jelasnya pemangkasan produksi minyak yang masih dibahas pada pertemuan Saudi Arabia dan Rusia pada November mendatang," kata Bhima

Berapa banyak produksi yang dipangkas, ucap Bhima, masih teka teki.

Kemudian faktor lain adalah dollar AS yang menguat menjadi kabar buruk bagi pemain komoditas minyak karena kekhawatiran banyak negara importir minyak mengurangi permintaan impor karena selisih kurs.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

BizzInsight

Berita Populer
Atas