Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Tingginya Transaksi Jadi Tantangan Bisnis Jasa Antaran dengan Sistem COD

Pada 2022, pengiriman sistem COD ini mencapai 84 persen dari total transaksi e-commerce nasional senilai Rp200 triliun.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
zoom-in Tingginya Transaksi Jadi Tantangan Bisnis Jasa Antaran dengan Sistem COD
Istimewa
TANTANGAN BISNIS ANTARAN COD - Founder & CEO KiriminAja, pemain industri jasa kiriman. Salah satu tantangan terbesar dalam industri ini adalah tingginya transaksi dengan metode Cash on Delivery (COD). 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Bisnis jasa antaran  kini tumbuh tajam seiring dengan maraknya bisnis e-commerce dan bisnis makanan minuman (F&B) yang diperdagangan di platform online.

Sebagian diantara pemain di bisnis ini menyediakan layanan antaran barang dengan sistem COD atau cash on delivery.

Founder & CEO KiriminAja, Fariz GTJ bilang, salah satu tantangan terbesar dalam industri ini adalah tingginya transaksi dengan metode Cash on Delivery (COD).

Pada 2022, pengiriman sistem COD ini mencapai 84 persen dari total transaksi e-commerce nasional senilai Rp200 triliun.

Baca juga: Penggunaan Pembayaran COD Tercatat Tetap Stabil di Era Transaksi Online yang Meningkat

"Pengiriman barang dengan sistem COD masih menjadi pilihan utama masyarakat karena banyak pelanggan yang ingin memastikan barang sampai sebelum melakukan pembayaran," Fariz GTJ di acara Kopdar dengan Online Seller dan pebisnis UMKM di Jakarta, baru-baru ini.

Dia mengatakan, layanan antaran dengan sistem COD memiliki sejumlajh tantangan.

Seperti misalnya pembeli atau penerima barang di alamat tujuan yang tidak merasa memesan atau membatalkan pesanan saat barang tiba.

Rekomendasi Untuk Anda

"Ini menjadi perhatian utama kami untuk meningkatkan efisiensi dan kepercayaan dalam proses pengiriman,” kata Fariz.

Selain itu, kondisi ekonomi yang mempengaruhi daya beli masyarakat juga berdampak pada bisnis UMKM dan industri logistik.

“Ketika daya beli menurun, volume pengiriman juga ikut berkurang. Kami berharap pertumbuhan ekonomi ke depan semakin membaik agar bisnis UMKM dan logistik bisa kembali meningkat,” tambah Fariz.

Dalam menghadapi persaingan agregator logistik, kata Fariz GTJ, KiriminAja lebih fokus pada inovasi dan peningkatan kualitas layanan daripada perang harga.

“Kami ingin membangun nilai tambah, bukan hanya sekadar menawarkan harga murah. Keberhasilan pengiriman dan kepuasan pelanggan menjadi prioritas utama,” katanya.

Untuk itu, Fariz GTJ mendorong para UMKM dan online seller untuk segera memanfaatkan kemudahan yang ada pada platform KiriminAja, seperti Integrasi Multi Ekspedisi,

Rilis Dana COD lebih cepat, Fitur Undelivery untuk mengawasi kendala pengiriman, Customer support 24 jam, dan Laporan pengiriman yang akurat dan transparan, serta memanfaatkan penawaran spesial KiriminAja untuk membantu online seller menekan biaya operasional dengan ongkos kirim yang lebih kompetitif.

Dia mengatakan, beberapa brand telah bergabung bersama platformnya, antara lain Aerostreet, Benings, Cover Super, Natasha, Paragon hingga Plugo.

Halaman 1/2
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Atas