Gagal Kelola Perubahan Bisa Rugikan Perusahaan Miliaran Rupiah, Studi Ungkap Penyebabnya
Ketika perusahaan berlomba melakukan transformasi, satu hal kerap luput diperhatikan: manajemen perubahan.
Editor:
Dodi Esvandi
TRIBUNNEWS.COM, KUALA LUMPUR — Ketika perusahaan berlomba melakukan transformasi, satu hal kerap luput diperhatikan: manajemen perubahan.
Padahal, jika diabaikan, dampaknya bisa sangat mahal.
Studi terbaru menunjukkan bahwa kegagalan dalam mengelola perubahan bisa merugikan perusahaan hingga miliaran rupiah—dari produktivitas yang anjlok, investasi yang sia-sia, hingga tim yang kehilangan semangat.
Menurut laporan McKinsey, hampir 70 persen upaya transformasi bisnis gagal atau terhenti di tengah jalan.
Penyebabnya beragam, mulai dari tujuan yang tidak jelas, minimnya dukungan karyawan, hingga absennya struktur perubahan yang solid.
Studi lain dari Bain & Company memperkuat temuan tersebut.
Hanya 12 persen transformasi skala besar yang berhasil mencapai target awal.
Kunci keberhasilan, menurut laporan itu, terletak pada fokus yang tajam, perlindungan terhadap talenta terbaik dari beban berlebih, serta kehadiran sosok Chief Transformation Officer—peran yang masih langka di banyak organisasi.
Tekanan ini semakin terasa di kawasan seperti Indonesia dan Asia Tenggara, di mana transformasi digital dan pergeseran tenaga kerja menuntut pendekatan yang lebih kontekstual.
Sayangnya, banyak organisasi masih memperlakukan perubahan sebagai daftar tugas, bukan sebagai keterampilan strategis.
Namun, ketika manajemen perubahan dilakukan dengan benar, hasilnya bisa sangat signifikan.
Riset Prosci tahun 2025 menunjukkan bahwa proyek dengan pendekatan change management yang kuat memiliki peluang tujuh kali lebih besar untuk sukses.
Bahkan, organisasi yang menetapkan definisi keberhasilan secara jelas dan rutin mengukur kemajuan bisa meningkatkan peluang mencapai target hingga lima kali lipat.
Baca juga: Eskalasi di Laut China Selatan Kian Militeristik, ASEAN Dituntut Lebih dari Sekadar Penonton
“Organisasi di ASEAN menghadapi tantangan serupa: bagaimana membuat orang mau berubah. Yang dibutuhkan bukan teori, tapi strategi lokal yang bisa langsung diterapkan,” ujar R.A. Thiagaraja, advokat kepemimpinan perubahan di Asia Tenggara.
Dengan latar belakang ini, ASEAN Change Management Conference (ACMC) ke-2 akan digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 1–2 Oktober 2025.
Baca tanpa iklan