Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribunners
LIVE ●

Tribunners / Citizen Journalism

Sehari Bersama Whoosh: Dalam Sekejap, Bandung Terasa Lebih Dekat

Sensasi Pengamat Transportasi Muhamad Akbar menumpang Whoosh yang selama ini publik ramai membicarakannya lewat berita, kritik, dan debat.

Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Sehari Bersama Whoosh: Dalam Sekejap, Bandung Terasa Lebih Dekat
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
KERETA CEPAT - Penumpang turun dari Kereta Cepat Whoosh setibanya di Stasiun Kereta Cepat Halim, Jakarta, Rabu (29/10/2025). Pemerintah Indonesia dan China sepakat merestrukturisasi pembiayaan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) dan melalui skema restrukturisasi ini, jangka waktu pembayaran utang kereta cepat akan diperpanjang hingga 60 tahun sehingga beban keuangan menjadi lebih ringan. Sensasi Pengamat Transportasi Muhamad Akbar menumpang Whoosh yang selama ini publik ramai membicarakannya lewat berita, kritik, dan debat. TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN 

Hanya tiga stasiun dalam 22 menit. Pendek, efisien, dan cukup nyaman, sebuah potongan perjalanan yang menunjukkan bahwa konektivitas tak selalu harus rumit. Kadang, cukup dengan arah yang jelas dan kereta yang datang tepat waktu.

 

Roti Srikaya, Sahabat Lama, dan Jalan Braga

Dari stasiun, saya memutuskan berjalan kaki menyusuri Jalan Otista. Trotoarnya padat, penuh dengan pedagang kaki lima, suara klakson, dan riuhnya kota yang tak pernah betul-betul diam. Langkah saya tertuju pada satu tempat: Warung Kopi Purnama. Sebuah kedai legendaris yang konon sudah berdiri sejak zaman Hindia Belanda. Di dalamnya, waktu seakan membeku. Dinding kayu, pelayan berseragam sederhana, dan menu yang tak berubah. Saya memesan roti panggang selai srikaya dan kopi hitam pahit—sepasang menu yang sudah lama merawat selera banyak generasi.

Tak lama, janji lewat WhatsApp malam sebelumnya terwujud. Kuncara datang—kawan lama semasa kuliah di Akademi Lalu Lintas Bekasi, kini dengan sedikit uban dan senyum khasnya yang tetap ramah. Dengan sepeda motornya, kami berkeliling Bandung, menyusuri ikon-ikon kota: Gedung Merdeka yang gagah, aliran Cikapundung yang dibingkai beton, lorong Braga yang selalu memanggil, hingga megahnya Gedung Sate yang berdiri anggun sebagai pengingat masa lalu yang masih terasa sampai kini.

Menjelang Dzuhur, kami singgah di Masjid Agung Al Ukhuwah. Di dalam, suasana khusyuk berpadu dengan sejuknya udara kota Bandung. Tak jauh dari situ, hanya beberapa langkah ke samping, berdiri Bandoengsche Melk Centrale 1928—restoran bergaya lawas yang seolah berbagi halaman dengan masjid. Di sana, saya menikmati makan siang ringan: ikan steam, tahu, tempe, dan segelas susu murni hangat. Sederhana, tapi cukup pas untuk menutup kunjungan singkat hari ini.

 

Whoosh Jakarta ke Bandung: Tepat Waktu, Penuh Arti

Usai makan siang yang singkat, saya diantar Kuncara kembali ke Stasiun Bandung, mengucapkan selamat tinggal pada kota ini yang kali ini terasa begitu mudah dijangkau. Gerimis masih setia sejak pagi. Saya menaiki kereta feeder pukul 13.45 menuju Padalarang. Lalu, tepat pukul 15.23, Whoosh melaju lagi—kali ini membawa saya pulang.

Rekomendasi Untuk Anda

Saya duduk di sisi yang berbeda dari keberangkatan pagi tadi. Dari jendela, matahari mulai condong ke barat, mewarnai lanskap dengan cahaya keemasan yang lembut. Layar digital di kabin masih menunjukkan angka di atas 300 km/jam, tapi kali ini saya tidak lagi terpaku pada kecepatannya. Ada hal lain yang menyita perhatian—keheningan, kenyamanan, dan ruang yang cukup untuk merenung. Mungkin inilah bentuk lain dari kemajuan: bukan hanya soal kecepatan, tapi juga tentang bagaimana perjalanan memberi ruang untuk berpikir.

Di tengah keheningan itu, riuhnya wacana publik sempat melintas di kepala—dari lini masa media sosial hingga tajuk utama di berbagai pemberitaan. Isu mark-up , polemik anggaran, hingga perdebatan tentang urgensi proyek kereta cepat mengalir deras. Kritik-kritik itu sah saja. Namun, di dalam gerbong yang meluncur mulus ini, semua perdebatan seakan tertinggal di luar jendela. Whoosh diam-diam membuktikan dirinya bukan lewat pernyataan resmi atau kampanye citra, melainkan melalui akurasi jadwal, kerapihan layanan, dan kenyamanan yang bisa dirasakan langsung. Seolah ia ingin berkata, “Silakan berdebat, biarkan saya bekerja.”

Kereta tiba tepat waktu di Halim. Saya memesan Gocar dan sekitar pukul lima sore sudah tiba kembali di rumah. Ransel masih kosong, seperti saat berangkat pagi tadi. Tapi yang pulang bukan sekadar tubuh—ada pengalaman baru yang ikut pulang, dan rasanya tak mungkin ditinggal di gerbong belakang.

Halaman 2/2

Tribuners adalah platform jurnalisme warga. Untuk berkontribusi, anda bisa mengirimkan karya dalam bentuk berita, opini, esai, maupun kolom ke email redaksi@tribunnews.com


Konten menjadi tanggungjawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi tribunnews.com.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

Berita Populer
Berita Terkini
Atas