BPDP Dorong Pemanfaatan AI untuk Dukung Inovasi dan Riset Perkebunan
Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan di industri perkebunan diyakini akan memperkuat inovasi dan daya saing sektor perkebunan nasional.
Penulis:
Eko Sutriyanto
Editor:
Choirul Arifin
Ringkasan Berita:
- BPDP mendorong penerapan kecerdasan buatan (AI) untuk memperkuat inovasi, produktivitas dan daya saing perkebunan nasional.
- Kolaborasi riset antara akademisi, industri dan UMKM dibutuhkan agar hasil riset dapat diterapkan secara nyata.
- BPDPmenampilkan inovasi riset kampus serta produk unggulan UMKM berbasis sawit, kelapa dan kakao di InaRI Expo 2025
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA — Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) melihat peluang besar penerapan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dalam memperkuat inovasi dan daya saing sektor perkebunan nasional.
Teknologi ini dinilai mampu mempercepat proses hilirisasi, meningkatkan produktivitas, serta membuka pasar baru bagi pelaku UMKM berbasis komoditas sawit, kakao, dan kelapa.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan bahwa pemanfaatan AI bisa diterapkan di berbagai aspek mulai dari analisis produktivitas lahan, prediksi hasil panen, efisiensi energi, hingga pemasaran digital bagi UMKM.
“BPDP terbuka untuk mengadopsi teknologi ini dalam pengelolaan komoditas seperti sawit, kakao, dan kelapa,” ujar Helmi di Indonesia Research and Innovation (InaRI) Expo 2025 yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) di Jakarta International Expo (JIExpo) Kemayoran, baru-baru ini.
Helmi menilai, penggunaan teknologi AI di sektor perkebunan bukan sekadar tren digitalisasi, tetapi langkah nyata menuju pertanian presisi (precision agriculture) yang berbasis data.
Dengan analisis berbasis algoritma, petani dan UMKM dapat memetakan produktivitas lahan secara akurat, mengurangi pemborosan sumber daya, serta memprediksi hasil panen dengan lebih tepat.
“AI memungkinkan riset dan inovasi menghasilkan dampak langsung bagi industri dan pelaku usaha kecil. Teknologi ini juga bisa membantu menciptakan rantai pasok perkebunan yang lebih efisien dan berkelanjutan,” jelasnya.
Penerapan kecerdasan buatan juga dapat memperkuat digitalisasi pemasaran produk UMKM. Melalui sistem rekomendasi dan analisis perilaku konsumen, pelaku usaha dapat menjangkau pasar yang lebih luas, baik di dalam negeri maupun luar negeri.
Hilirisasi Riset
Lebih lanjut, Helmi menegaskan bahwa sinergi antara peneliti, akademisi, dan UMKM menjadi kunci percepatan hilirisasi hasil riset di sektor perkebunan.
Kolaborasi lintas sektor ini akan memastikan hasil riset tidak berhenti di laboratorium, tetapi benar-benar diterapkan dalam proses produksi dan pemasaran.
“Riset dan inovasi harus terhubung dengan industri dan UMKM agar hasilnya nyata dan berkelanjutan,” tegasnya.
Baca juga: Petani Minta Presiden Benahi Tata Kelola Sawit Sesuai Aturan Hukum
BPDP sendiri terus memperkuat jejaring riset dan inovasi melalui berbagai program, termasuk Grant Riset Sawit yang melibatkan perguruan tinggi dan lembaga penelitian di seluruh Indonesia.
Di ajang InaRI Expo 2025, BPDP menampilkan sejumlah hasil riset unggulan dari program Grant Riset Sawit, seperti RAWITS (Radar Sawit ITS) karya mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dan PALMA X-1 dari Universitas Pancasila.
Kedua inovasi tersebut menjadi bukti kontribusi riset kampus dalam meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan keberlanjutan industri sawit nasional.