Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

DEN Sebut Nuklir Harus Dikembangkan Jadi Bagian dari Energi Baru Terbarukan

Dewan Energi Nasional (DEN) menyatakan bahwa nuklir merupakan penyeimbang dalam target dekarbonisasi sektor energi.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in DEN Sebut Nuklir Harus Dikembangkan Jadi Bagian dari Energi Baru Terbarukan
Strana
ILUSTRASI. Nuklir sebagai bagian dari energi baru terbarukan dapat dikembangkan melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). 

Ringkasan Berita:
  • Nuklir sebagai bagian dari energi baru terbarukan dapat dikembangkan melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).
  • Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), As Natio Lasman, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh tertinggal dalam pembangunan PLTN

 


TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Dewan Energi Nasional (DEN) menyatakan bahwa nuklir merupakan penyeimbang dalam target dekarbonisasi sektor energi.

Nuklir sebagai bagian dari energi baru terbarukan dapat dikembangkan melalui pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN).

"Sekarang tidak hanya energi terbarukan, tapi energi baru dan terbarukan. Artinya, nuklir sudah menjadikan hal yang harus dan kemudian juga hidrogen, amonia, artinya energi-energi baru itu akan dikembangkan," katanya dalam seminar bertajuk Outlook Energi Indonesia 2026 yang diselenggarakan di Jakarta Pusat, Selasa (9/12/2025).

Baca juga: Pangeran MBS ke AS, Lobi Trump Setujui Kerja Sama AI hingga Nuklir Senilai 600 Miliar Dolar

"Nuklir saya kira memang bukan lagi sebagai last option, tetapi dia penyeimbang di dalam target dekarbonisasi sektor energi, jadi untuk menurunkan tingkat emisi," sambungnya.

Ia kemudian menjelaskan bahwa bauran Energi Baru Terbarukan (EBT) pada 2030 targetnya adalah 19–23 persen. Pada 2060, ditargetkan baurannya bisa mencapai 70–72 persen.

Rekomendasi Untuk Anda

Yunus turut menyinggung bagaimana negara lain bisa membangun PLTN, sedangkan Indonesia tidak. Ia mencontohkan Bangladesh dan Turki yang saat ini sedang membangun PLTN.

"Kalau nuklir itu baik, kenapa di Indonesia tidak terjadi? Kalau nuklir itu jelek, kenapa negara yang maju kok bikin? Kenapa negara lain malah bangun? Termasuk Bangladesh dan Turki semuanya pada bangun walaupun di bawah kita," ujar Yunus.

Ia mengatakan bahwa Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 40 Tahun 2025 tentang Kebijakan Energi Nasional, energi berbasis nuklir tidak lagi menjadi opsi terakhir, tetapi menjadi sesuatu yang wajib dipilih.

Nuklir dapat mengisi sekitar 11 sampai 12 persen bauran energi pada tahun 2060. Kalau dikonversikan, gigawatnya adalah sekitar 45 sampai dengan 54 gigawatt dalam kontribusi bauran energi nasional.

Sebelumnya, Anggota Dewan Energi Nasional (DEN), As Natio Lasman, menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh tertinggal dalam pembangunan PLTN.

"Kita harus belajar dari Amerika, Rusia, dan China dalam pengoperasian reaktor. Kirimkan SDM kita ke sana, biar mereka belajar langsung di lapangan,” ujar As Natio dalam Seminar Nasional bertema Peluang SDM dalam Pembangunan PLTN, Kamis (31/7/2025).

Menurutnya, Indonesia telah memetakan 29 lokasi strategis untuk pembangunan PLTN, termasuk di wilayah Bangka Belitung dan Kalimantan Barat.

Maka dari itu, penguasaan teknologi nuklir serta kesiapan SDM menjadi kunci utama keberhasilan proyek ini.

As Natio menambahkan, alasan utama pentingnya PLTN di Indonesia adalah efisiensi energi:

“Satu gram uranium menghasilkan panas setara dengan 3 ton batu bara. Apalagi, Indonesia punya cadangan uranium yang besar, dari Kalimantan, Mamuju hingga Sumatera.” 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas