Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

APKI Dorong Industri Pulp dan Kertas Indonesia Berdaya Saing Global Berbasis Keberlanjutan

APKI bersama para anggota membahas arah strategis industri ke depan, termasuk berbagai upaya dalam penguatan efisiensi energi.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Sanusi
zoom-in APKI Dorong Industri Pulp dan Kertas Indonesia Berdaya Saing Global Berbasis Keberlanjutan
(Ho/Campus League)
DAYA SAING INDUSTRI - Rapat Kerja APKI 2025. Industri pulp dan kertas (IPK) mencatat kinerja yang solid dengan kontribusi signifikan terhadap perekonomian. Pada 2025, sektor ini berkontribusi sebesar 3,68 persen terhadap PDB nonmigas. 

 

Ringkasan Berita:
  • Industri pulp dan kertas (IPK) mencatat kinerja yang solid dengan kontribusi signifikan terhadap perekonomian.
  • Keberlanjutan bukan lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi kewajiban kepatuhan, ekspektasi rantai pasok global, sekaligus keunggulan kompetitif.

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) menyelenggarakan Rapat Kerja APKI 2025 dengan tema “Beyond Growth: Transforming Indonesia’s Pulp and Paper Industry Towards a Sustainable Future”.

Kegiatan ini menjadi wadah strategis bagi pelaku industri, pemerintah, dan pemangku kepentingan terkait untuk membahas perkembangan terkini industri pulp dan kertas nasional dalam menghadapi tuntutan pasar global yang semakin menekankan pada aspek keberlanjutan.

Industri pulp dan kertas (IPK) mencatat kinerja yang solid dengan kontribusi signifikan terhadap perekonomian. Pada 2025, sektor ini berkontribusi sebesar 3,68 persen terhadap PDB nonmigas. Dari sisi kontribusi pada penciptaan lapangan kerja, industri pulp dan kertas telah menyerap lebih dari 288 ribu tenaga kerja langsung dan lebih dari 1,2 juta tenaga kerja tidak langsung pada 2024. Hingga pertengahan 2025, Indonesia tercatat sebagai salah satu produsen pulp dan kertas terbesar dunia, dengan kapasitas yang akan terus berkembang.

Baca juga: Dinilai Bebani Industri, APKI Minta Pemerintah Tinjau Ulang Cukai Popok Sekali Pakai

Capaian tersebut sekaligus menjadi refleksi penting dalam Rapat Kerja APKI 2025. Di tengah tantangan global, tekanan dekarbonisasi, dan perubahan preferensi pasar internasional, APKI bersama para anggota membahas arah strategis industri ke depan, termasuk berbagai upaya dalam penguatan efisiensi energi, ekonomi sirkular, serta percepatan adopsi teknologi rendah karbon sebagai bagian dari transformasi struktural industri.

“Keberlanjutan bukan lagi sekadar tren, melainkan telah menjadi kewajiban kepatuhan, ekspektasi rantai pasok global, sekaligus keunggulan kompetitif. Transformasi menuju industri hijau harus menjadi prioritas bersama agar industri pulp dan kertas Indonesia tetap relevan dan berdaya saing,” ujar Ketua Umum APKI, Liana Bratasida dalam sambutan di awal kegiatan.

Rekomendasi Untuk Anda

Rapat Kerja APKI 2025 secara resmi dibuka oleh Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, yang hadir mewakili Menteri Perindustrian Republik Indonesia.

Dalam sambutannya, Kementerian Perindustrian menegaskan komitmennya dalam mendukung  industri pulp dan kertas menuju industri hijau dan rendah emisi, sejalan dengan target Net Zero Emission sektor industri dan komitmen nasional penurunan emisi gas rumah kaca.

“Industri yang berkelanjutan bukan hanya untuk menjawab tuntutan global, tetapi juga untuk memastikan daya saing jangka panjang industri nasional. Pemerintah telah mendorong roadmap dekarbonisasi yang realistis, terukur, dan didukung kebijakan serta insentif yang kondusif,” tegasnya.

Tren dalam Pasar Pulp dan Kertas Global

Perspektif global mengenai transformasi industri juga dihadirkan melalui sesi talkshow oleh pakar internasional, Mr. Sampsa Veijalainen, Senior Product Manager dari Fastmarkets yang memaparkan tren pasar pulp dan kertas global, termasuk meningkatnya perhatian investor dan pembeli internasional terhadap kinerja keberlanjutan, intensitas emisi, serta transparansi rantai pasok.

“Secara global, permintaan untuk produk kertas dan karton akan terus tumbuh, terutama di negara-negara di Asia. Salah satu aspek penting adalah dekarbonisasi. Industri pulp dan kertas telah berkontribusi sekitar 15,55 persen dari total emisi sektor industri. Oleh karena itu, upaya-upaya untuk mengurangi jejak karbon menjadi sangat krusial," tegas Sampsa.

Peluang dan Implementasi Pembiayaan Hijau di Industri Pulp dan Kertas

Isu pembiayaan hijau menjadi fokus utama pembahasan seminar yang dikemas dalam bentuk diskusi panel. Industri pulp dan kertas sudah menjalankan berbagai inisiatif ekonomi sirkular dan penghematan energi.

Namun, pengembangan inisiatif tersebut masih menghadapi tantangan, terutama terkait kebutuhan investasi awal dan akses pendanaan yang kompetitif. Oleh karena itu, dukungan kebijakan dan skema pembiayaan yang tepat dinilai penting untuk mempercepat implementasi di tingkat industri.

Sesi panel menghadirkan narasumber Direktur Pengawasan Emiten dan Perusahaan Publik 2 Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Nailin Ni’mah; Analis Kebijakan Madya, Direktorat Strategi Produktivitas dan Pertumbuhan Ekonomi Kementerian Keuangan, Slamet Widodo; serta Chief Sales Officer PT SUN Energy, Oky Gunawan.

Diskusi mengupas tuntas mengenai peran kebijakan, pembiayaan, dan teknologi dalam mempercepat transisi hijau industri pulp dan kertas, mulai dari penguatan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia (TKBI) dan instrumen pasar modal hijau oleh OJK, penyediaan insentif fiskal serta mekanisme insentif–disinsentif berbasis emisi oleh Kementerian Keuangan, hingga implementasi energi terbarukan di tingkat industri melalui pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan skema pembiayaan fleksibel yang memungkinkan pengurangan emisi tanpa beban investasi awal.

Melalui kegiatan seminar ini, APKI menegaskan komitmennya untuk menjadi mitra strategis pemerintah dan pemangku kepentingan dalam mendorong transformasi industri pulp dan kertas nasional. Sinergi kebijakan, pembiayaan hijau, dan penerapan teknologi yang lebih produktif dan efisien diharapkan dapat membuka peluang baru bagi industri untuk tumbuh secara berkelanjutan dan berkontribusi lebih besar terhadap perekonomian masa depan yang hijau dan inklusif. 

 

 

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas