Ini Penyebab Nilai Tukar Rupiah Merosot ke Level Rp 16.877 per Dolar AS
Konflik Iran menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, turut menjadi faktor pelemahan rupiah.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Rupiah di pasar spot melemah 0,13 persen secara harian ke Rp 16.877 per dolar Amerika Serikat (AS).
- Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan rupiah juga melemah 0,13 persen secara harian ke Rp 16.875 per dolar AS.
- Konflik Iran menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, turut menjadi faktor.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada Selasa (13/1/2026).
Berdasarkan Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,13 persen secara harian ke Rp 16.877 per dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, Jisdor Bank Indonesia (BI) menunjukkan bahwa rupiah juga melemah 0,13 persen secara harian ke Rp 16.875 per dolar AS.
Baca juga: Banyak Tekanan, Nilai Tukar Rupiah Diramal Tembus Rp17.000 per Dolar AS: Upaya Intervensi BI Sia-sia
Menurut Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuaibi, ada sejumlah faktor dari luar dan dalam negeri yang mempengaruhi pelemahan ini.
Pengamat Ekonomi, mata uang, dan komoditas itu memandang sentimen pasar telah terguncang oleh perkembangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Amerika Serikat (AS).
Perkembangan tersebut adalah jaksa yang meluncurkan investigasi kriminal terhadap Ketua Bank Sentral Amerika Serikat atau The Fed, Jerome Powell.
"Meningkatnya tekanan politik terhadap The Fed melemahkan kepercayaan terhadap kebijakan moneter AS," kata Ibrahim dalam keterangannya pada Selasa ini.
Kemudian, konflik Iran menghadapi demonstrasi anti-pemerintah terbesar dalam beberapa tahun terakhir, turut menjadi faktor.
Adapun demonstrasi tersebut diwarnai kekerasan yang meluas dan dilaporkan banyak korban jiwa ketika pasukan keamanan menindak para demonstran.
Presiden AS Donald Trump telah memperingatkan kemungkinan tindakan militer jika otoritas Iran terus menggunakan kekuatan mematikan terhadap para demonstran.
Berikutnya, Donald Trump juga mengumumkan rencana untuk mengenakan tarif 25 persen pada negara mana pun yang "berbisnis" dengan Iran.
Ibrahim menilai hal tersebut sebuah langkah yang bertujuan untuk mengisolasi Teheran secara ekonomi.
Selain itu,Infrastruktur ekspor minyak Rusia telah berulang kali diserang di tengah konflik Ukraina yang berkepanjangan.
Pasukan Ukraina telah menyerang fasilitas minyak dan pusat ekspor Rusia, termasuk terminal Caspian Pipeline Consortium (CPC) di dekat Novorossiysk.
Baca tanpa iklan