Menko Airlangga Tegaskan Pemerintah Bakal Bentuk BUMN Baru Khusus Tekstil
Menko Airlangga Hartarto menegaskan pemerintah akan membentuk BUMN baru yang secara khusus bergerak di sektor tekstil.
Penulis:
Nitis Hawaroh
Editor:
Sanusi
Ringkasan Berita:
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pemerintah akan membentuk BUMN baru yang secara khusus bergerak di sektor tekstil.
Kebijakan ini diambil sebagai strategi pemerintah dalam menghadapi perang tarif global yang berdampak besar pada industri padat karya nasional.
"Akan membentuk BUMN baru khusus tekstil," ujar Menko Airlangga usai menghadiri acara Indonesian Business Council (IBC) di Hotel Mulia Jakarta, Rabu (14/1/2026).
Baca juga: Presiden Prabowo Fokus Revitalisasi Tekstil, AGTI: Momentum Perkuat Daya Saing
"Tidak menghidupkan kembali," imbuhnya menegaskan.
Airlangga mengatakan, keputusan pembentukan BUMN khusus tekstil ini dibahas dalam rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Hambalang.
Dalam rapat itu, pemerintah memetakan sektor-sektor dengan risiko tertinggi akibat kebijakan tarif, di antaranya tekstil, produk tekstil, sepatu, garmen, dan elektronik.
"Kami mengusulkan sudah diselesaikan roadmap sekaligus karena tadi seperti saya sampaikan, yang di garis terdepan dalam tarif itu adalah yang resiko tinggi tertinggi itu di sektor tekstil, produk tekstil, sepatu, garment, dan elektronik," tutur Airlangga.
Pemerintah kemudian menyiapkan posisi defensif, termasuk dengan membuka pasar ekspor baru. Menurut Airlangga, salah satu peluang yakni perjanjian Indonesia–Uni Eropa Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA), meski perjanjian tersebut baru efektif pada 2027.
Baca juga: Wamenperin Faisol Riza: Industri Tekstil akan Bersinar Kembali di 2026
Lebih lanjut, Airlangga bilang bahwa pemerintah telah menyusun roadmap peningkatan ekspor, dengan target nilai ekspor industri tekstil meningkat dari sekitar 4 miliar dolar Amerika Serikat (AS) menjadi 40 miliar dolar AS dalam 10 tahun ke depan.
"Nah oleh karena itu sudah dibuat roadmap bagaimana meningkatkan ekspor kita yang dari 4 miliar dolar AS bisa naik ke 40 miliar dolar AS dalam 10 tahun dan bagaimana pendalaman dari value chain daripada industri tekstil," tegas Airlangga.
Selain itu, fokus juga diarahkan pada pendalaman rantai nilai (value chain) industri tekstil. Sebab Airlangga mengakui, selama ini kelemahan industri tekstil Indonesia berada di bagian tengah rantai produksi, seperti pembuatan benang, kain, dyeing, printing, hingga finishing.
Untuk mendukung pembentukan BUMN tersebut, pemerintah menyiapkan pendanaan sebesar 6 miliar dolar AS yang akan disalurkan melalui Danantara.
"Nah ini yang harus kita dorong untuk dibangkitkan kembali dan Bapak Presiden mengingatkan kita pernah mempunyai BUMN tekstil dan ini akan dihidupkan kembali sehingga pendanaan 6 billion nanti akan disiapkan oleh Danantara," tutur Airlangga.
Baca tanpa iklan