Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun Bisnis
LIVE ●

Kadin Harap Kebijakan DHE Perkuat Cadangan Devisa di Tengah Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

Menurut Aviliani, nilai tukar rupiah idealnya tidak menembus ke level Rp 17.000 per dolar AS. Sebab hal itu akan berdampak berat bagi dunia usaha

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Nitis Hawaroh
Editor: Sanusi
zoom-in Kadin Harap Kebijakan DHE Perkuat Cadangan Devisa di Tengah Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
Tribunnews.com/Nitis Hawaroh
PELEMAHAN RUPIAH - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Anindya Bakrie dan Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kadin, Aviliani di Menara Kadin Indonesia, Jakarta, Kamis (15/1/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Aviliani menyatakan, pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada beban utang luar neger perusahaan serta biaya impor
  • Aviliani menilai Bank Indonesia (BI) akan berupaya menjaga stabilitas rupiah agar tidak melemah terlalu dalam

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Wakil Ketua Umum Bidang Analisis Kebijakan Makro-Mikro Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Aviliani menilai, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) memberikan dampak luas terhadap makro ekonomi nasional terutama bagi usaha dan inflasi.

Menurut Aviliani, nilai tukar rupiah idealnya tidak menembus ke level Rp 17.000 per dolar AS. Sebab hal itu akan berdampak berat bagi dunia usaha.

Baca juga: Rupiah Makin Tersungkur, Sore Ini Jadi Terlemah Sepanjang Masa Mendekati Rp17.000

"Kita berharap jangan sampai itu sampai Rp.17.000 atau lebih ya. Karena memang itu akan berdampak pada dunia usaha," ujar Aviliani saat ditemui di Menara Kadin Indonesia, Kamis (15/1/2026).

Aviliani menyatakan, pelemahan rupiah akan berdampak langsung pada beban utang luar neger perusahaan serta biaya impor. Pasalnya sekitar 70 persen industri Indonesia masih bergantung pada bahan baku impor.

"Jadi kalau itu melebihi dari angka itu memang beban jadi berat dan itu akan mempengaruhi juga inflasi," ujar dia.

Aviliani menilai Bank Indonesia (BI) akan berupaya menjaga stabilitas rupiah agar tidak melemah terlalu dalam. Namun, tekanan terhadap nilai tukar saat ini cukup kuat, terutama akibat keluarnya dana investor asing.

Rekomendasi Untuk Anda

"Yang terjadi memang kalau kita lihat dari data, investor asing itu dari SRBI itu keluar cukup banyak, hampir Rp 100 triliun. Kemudian SBN itu hampir totalnya Rp 122 triliun," tutur Aviliani.

Dia berharap, kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang akan diterapkan pemerintah dapat membantu menjaga cadangan devisa dan menopang nilai tukar rupiah. Meski demikian BI juga perlu memastikan ketersediaan likuiditas dolar di pasar.

"Sehingga kalau mahal itu juga akan berdampak pada kredit dalam USD. Jadi ini harus dijaga keseimbangan antara peraturan DHE dengan likuditas dolar di pasar, itu yang harus dijaga," ungkap Aviliani.

Lebih lanjut, Aviliani menyebut pelemahan rupiah tidak hanya berdampak pada komoditas kedelai tetapi juga sektor lain yang sangat bergantung pada impor seperti manufaktur.

"Pastinya adalah manufaktur. Karena manufaktur kan hampir ketergantungan importnya sangat tinggi. Kita belum punya substitusi import," tegas dia.

Selain itu, sektor pangan juga menjadi perhatian. Menurut Aviliani, fokus pemerintah selama ini masih pada beras, padahal Indonesia masih mengimpor berbagai komoditas pangan lainnya.

"Nah ini juga akan berdampak pada inflasi pangan. Makanya itu perlu dijaga nilai tukar," ucap dia.

Sebelumnya, Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin G. Hutapea mengatakan, pergerakan mata uang global termasuk Rupiah saat ini banyak dipengaruhi oleh kondisi pasar keuangan dunia yang sedang bergejolak.

Baca juga: Bos Kadin Minta Pengusaha Waspada Hadapi Pelemahan Rupiah: Jangan Anggap Enteng

Selain faktor global, meningkatnya kebutuhan valuta asing di dalam negeri pada awal tahun turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah. 

Kondisi tersebut mendorong Rupiah melemah dan ditutup pada level Rp16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, atau terdepresiasi 1,04 persen secara year-to-date (ytd).

"Tekanan tersebut bersumber dari eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di sejumlah negara maju, serta ketidakpastian arah kebijakan moneter The Fed ke depan, di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat pada awal tahun," kata Erwin dalam keterangannya, Rabu (14/1/2026).

Meski demikian, Erwin menegaskan pelemahan Rupiah masih sejalan dengan pergerakan mata uang regional lainnya. Ia menyebut, won Korea Selatan melemah 2,46 persen, sementara peso Filipina terdepresiasi 1,04 persen akibat sentimen global yang sama.

Untuk menjaga stabilitas, Bank Indonesia terus menjalankan kebijakan stabilisasi secara konsisten dan berkelanjutan. Langkah tersebut dilakukan melalui intervensi Non Deliverable Forward (NDF) di pasar off-shore kawasan Asia, Eropa, dan Amerika, serta intervensi di pasar domestik melalui transaksi spot, DNDF, dan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.

"Berlanjutnya aliran masuk modal asing, terutama ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan pasar saham yang secara neto mencapai Rp11,11 triliun pada Januari 2026 juga mendukung terkendalinya stabilitas Rupiah," tegas Erwin.

Sumber: Tribunnews.com
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di

Kirim Komentar

Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.

BizzInsight

Berita Populer
Berita Terkini
Atas