Semakin Dekati Rp 17 Ribu, Rupiah Melemah ke Rp 16.955 Per Dolar AS
Pada perdagangan Senin (19/1/2026) sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 68 poin ke Rp 16.955 dari Rp 16.896 per dolar Amerika Serikat
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Sanusi
Ibrahim menjelaskan, rencana pemerintah menerapkan peraturan yang tidak lazim untuk mencapai pertumbuhan ekonomi 8 persen menjadi sentimen negatif terhadap rupiah.
Selain itu, ia mengungkap ada kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal Indonesia yang kembali mencuat.
Kekhawatiran itu setelah defisit anggaran 2025 mendekati batas 3 persen, sedangkan penerimaan negara masih lemah.
"Kondisi ini menambah tekanan terhadap pergerakan mata uang rupiah," kata Ibrahim.
Bank Indonesia (BI) sebenarnya disebut sudah melakukan intervensi untuk mengendalikan volatilitas, tetapi terdapat cukup banyak keterbatasan dari sisi kebijakan.
Ia menyebut BI secara rutin melakukan pembelaan terhadap rupiah, baik di pasar DNDF maupun pasar NDF.
"Namun, toleransi Bank Indonesia terhadap pelemahan rupiah yang moderat dapat membatasi efektivitas intervensi tersebut," ujar Ibrahim.
Guna menopang mata uang rupiah, BI diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan saat rapat kebijakan pada Rabu mendatang.
BI juga disebut telah mengerahkan berbagai instrumen untuk menahan pelemahan rupiah.
Upaya itu dilakukan melalui penyesuaian penerbitan surat berharga bank sentral, intervensi di pasar valuta asing, serta pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.
Selain itu, rencana pemerintah untuk memperketat pengelolaan devisa hasil ekspor dinilai dapat memberikan bantalan bagi rupiah.
"Namun, para analis tetap menyuarakan kekhawatiran bahwa defisit fiskal tahun ini berpotensi melebar melampaui batas hukum 3 persen, seiring upaya pemerintah meningkatkan belanja di tengah lemahnya penerimaan pajak," ucap Ibrahim.