Geopolitik Memanas, Harga Bitcoin Ambles ke Bawah 90.000 Dolar AS
Analis menilai pelemahan dipengaruhi faktor makro, bukan fundamental Bitcoin, dan mencerminkan integrasi kripto dengan pasar global.
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Harga Bitcoin turun menembus US$90.000 dan sempat menyentuh kisaran US$87.000 akibat sentimen risk-off global.
- Tekanan dipicu ketegangan geopolitik, perang tarif AS-Eropa, serta gejolak pasar obligasi Jepang.
- Analis menilai pelemahan dipengaruhi faktor makro, bukan fundamental Bitcoin, dan mencerminkan integrasi kripto dengan pasar global.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketegangan geopolitik global dan aksi jual di pasar aset berisiko, menekan harga Bitcoin (BTC) ke zona merah.
Pada perdagangan kemarin, harga Bicoin menembus level psikologis 90.000 dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah kekhawatiran pasar terkait eskalasi perang tarif Amerika Serikat (AS) terhadap Eropa, termasuk tekanan AS kepada Denmark terkait Greenland, serta gejolak di pasar obligasi Jepang yang memicu sentimen risk-off secara luas.
Baca juga: Harga Bitcoin Menguat di Atas 92.000 Dolar AS, Berikut Pemicu Kenaikannya
Berdasarkan data CoinMarketCap, Bitcoin sempat turun ke kisaran 87.000 dolar AS sebelum bergerak fluktuatif.
Tekanan tidak hanya dirasakan di pasar kripto, tetapi juga meluas ke pasar saham global.
Indeks utama Wall Street, termasuk S&P 500 dan Nasdaq, ditutup melemah lebih dari dua persen, sementara imbal hasil obligasi bergejolak dan harga emas melonjak sebagai aset lindung nilai.
Vice President Indodax, Antony Kusuma, menilai pergerakan ini mencerminkan keterkaitan kripto yang semakin erat dengan dinamika makroekonomi dan geopolitik global.
“Dalam situasi seperti ini, Bitcoin tidak berdiri sendiri. Ketika pasar global memasuki fase risk-off akibat ketegangan geopolitik, kebijakan perdagangan, dan tekanan di pasar obligasi, aset berisiko cenderung mengalami koreksi secara bersamaan akibat aksi jual,” ujar Antony dikutip dari Kontan, Kamis (22/1/2026).
Menurut Antony, kepanikan jangka pendek sering muncul ketika investor global menyeimbangkan ulang portofolio di tengah ketidakpastian.
Hal ini tercermin dari meningkatnya volatilitas, lonjakan volume perdagangan, serta tekanan di pasar derivatif kripto. Ia menekankan bahwa pergerakan harga saat ini lebih dipengaruhi faktor eksternal, bukan perubahan fundamental dalam ekosistem Bitcoin.
“Dinamika suku bunga, likuiditas global, dan arah kebijakan geopolitik saat ini menjadi variabel utama yang memengaruhi harga,” jelasnya.
Antony menambahkan, sejarah pasar kripto menunjukkan fase koreksi tajam sering beriringan dengan guncangan makro, terutama karena Bitcoin kini semakin diperlakukan sebagai bagian dari aset global oleh investor institusional.
“Partisipasi institusi membuat Bitcoin lebih responsif terhadap isu global. Ini adalah konsekuensi dari maturasi pasar, di mana kripto semakin terintegrasi dengan sistem keuangan global,” katanya.
Meski demikian, Antony menegaskan, volatilitas tetap menjadi karakter inheren pasar kripto. Investor perlu memahami konteks pergerakan harga secara menyeluruh dan tidak semata melihat fluktuasi jangka pendek.