Pengamat Beberkan Penyebab Nilai Tukar Rupiah Ambruk hingga Dekati Rp17.000 per Dolar AS
Situasi politik dan intervensi Bank Sentral AS menambah volatilitas, memengaruhi kurs rupiah dan harga impor di Indonesia.
Penulis:
Endrapta Ibrahim Pramudhiaz
Editor:
Seno Tri Sulistiyono
Ringkasan Berita:
- Rupiah Kamis (22/1/2026) dibuka Rp 16.929 per dolar AS, hampir menyentuh Rp 17.000 akibat tekanan geopolitik dan ekonomi global.
- Ketegangan di Timur Tengah, Greenland, Rusia-Ukraina, Tiongkok-Taiwan, serta perang dagang AS–Eropa–Tiongkok memicu penguatan dolar.
- Situasi politik dan intervensi Bank Sentral AS menambah volatilitas, memengaruhi kurs rupiah dan harga impor di Indonesia.
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pelemahan nilai tukar rupiah hampir menyentuh Rp 17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) disebabkan dinamika ekonomi dan geopolitik global.
Rupiah di pasar spot, Kamis (22/1/2026) dibuka menguat 0,04 persen ke level Rp 16.929 per dolar AS.
Tercatat, rupiah pada penutupan perdagangan kemarin berada di posisi Rp 16.936 per dolar AS.
Pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas yang merupakan Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengungkap sejumlah faktor eksternal yang menjadi penekan terbesar terhadap rupiah.
Baca juga: Usai Bank Indonesia Sampaikan Bakal Intervensi, Rupiah Pagi Ini Bergerak Menguat
"Pertama adalah permasalahan geopolitik, kedua tentang perang dagang, ketiga perpolitikan di Amerika, keempat adalah tentang spekulasi Bank Sentral global,” katanya dalam wawancara eksklusif bersama Tribunnews, dikutip Kamis (22/1/2026).
Ibrahim mengungkap kejadian geopolitik pertama adalah antara Amerika Serikat dan Venezuela saat Presiden AS Donald Trump menangkap Presiden Venezula Nicolas Maduro.
Trump menyebut penangkapan ini bukan invasi terhadap Venezula, tetapi Maduro ditangkap karena tersangka dalam kasus penggelapan narkoba.
Namun, Ibrahim memandang hal ini sejatinya merupakan keinginan Donald Trump menekan harga minyak dunia, sehingga mempengaruhi dinamika pasar energi global. Ia menginginkan harga minyak dunia itu adalah di level 50 dolar per barrel.
Kondisi geopolitik juga terjadi Timur Tengah, tepatnya di Iran, yang mengalami demonstrasi besar-besaran akibat tekanan ekonomi domestik.
"Di Iran terjadi demonstrasi besar-besaran akibat mata uang Iran ini mengalami pelemahan, inflasi cukup tinggi, dan dibonceng sama Amerika dan Israel, sehingga terjadi demonstrasi besar-besaran, dan hampir lebih dari 3.000 demonstran dan tentara polisi ini tewas," ujar Ibrahim.
Menurut Ibrahim, situasi tersebut menambah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah karena AS dan Israel ingin melemahkan rezim Iran.
Namun, Ibrahim menyebut pemerintahan dan militer Iran tetap solid, sehingga rencana untuk menggoyang Pemerintah Iran menjadi sulit. Ketegangan ini memicu rupiah yang mengalami kelemahan karena dolar menguat.
Konflik di Eropa
Selain di Timur Tengah, ketegangan muncul di Greenland, wilayah dalam Kerajaan Denmark, setelah Donald Trump mengancam akan mengambil alih.
Ibrahim memandang Trump menyoroti posisi strategis Greenland karena dekat dengan New York dan berpotensi digunakan Rusia maupun Tiongkok untuk membangun pangkalan militer.
"Kalau seandainya di Greenland ini, di situ Eropa bekerja sama dengan Rusia dan Tiongkok membangun satu pangkalan, itu sangat berbahaya," kata Ibrahim.
Kemudian, Ibrahim mengatakan perang Rusia–Ukraina masih menjadi faktor besar. Ia menilai konflik tersebut ini lebih lama karena keterlibatan NATO dan Amerika.
NATO dan Amerika Serikat ingin saling memamerkan senjata mereka masing-masing dan diujicobakan di perang antara Rusia dan Ukraina.
Ibrahim pun menyinggung rencana perjanjian gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina yang batal karena adanya serangan drone terhadap rumah dinas Presiden Rusia Vladimir Putin dari Ukraina.
"Akhirnya apa? Dengan kejadian itu gagal semua perjanjian yang diperakasai oleh Trump tersebut. Ini strategi politik," ujar Ibrahim.
Konflik di Asia
Selain Eropa, kawasan Asia juga disebut Ibrahim masuk dalam daftar risiko geopolitik setelah muncul manuver militer Tiongkok–Taiwan.
Ia menyebut Taiwan membeli berbagai jenis drone dari Israel. Taiwan juga melakukan pembelian besar-besaran persenjataan dari Amerika. Kemudian Jepang pun juga siap mendukung Taiwan.
Konflik lainnya ada di Filipina, di mana Amerika membuat pangkalan militer di Laut Cina Selatan.
"Ketegangan secara geopolitik ini kalau kita kemas ini yang membuat indeks dolar menguat dan rupiah mengalami pelemahan. Itu dari geopolitik," kata Ibrahim.
Perang Dagang dan Politik AS
Selain geopolitik, Ibrahim menilai perang dagang AS–Uni Eropa–Tiongkok dan situasi politik di AS turut mengangkat dolar.
Situasi politik AS menjelang pemilu sela, yang kemungkinan besar dimenangkan oleh Partai Demokrat, ini membuat kursi presiden kembali goyah dan memanas.
Ketegangan juga terjadi di Bank Sentral Amerika setelah Donald Trump meminta Ketua Federal Reserve (The Fed), Jerome Powell, menurunkan suku bunga.
Donald Trump ingin pada 2026 suku bunga semestinya kembali ke level awal, yakni 0–0,25 persen.
Setelah itu, Powell tengah menjalani penyelidikan pidana terkait proyek renovasi kantor The Fed senilai 2,5 miliar dolar AS.
Powell disebut memandang langkah itu bermuatan politis karena ada campur tangan pemerintah, sedangkan The Fed tidak ingin merespons kebijakan eksekutif.
Pada April mendatang disebut akan ada pergantian Ketua The Fed yang diperkirakan berasal dari Gedung Putih dan merupakan orang dari Donald Trump.
Berikutnya adalah soal perdang dagang. Donald Trump mengancam akan mengenai tarif impor hingga 25 persen pada barang impor dari Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Belanda, Finlandia, dan Inggris.
Tarif menjadi 25 persen akan berlaku pada 1 Juni jika tidak ada kesepakatan tentang Greenland yang tercapai.
"Rupanya Uni Eropa melawan. Uni Eropa melawan nanti akan membalas melakukan perang dagang juga dengan Amerika," ujar Ibrahim.
Di sisi lain, Uni Eropa juga sedang melakukan perang dagang dengan Tiongkok. Mereka akan mengenakan tarif untuk barang-barang turunan dari 88,6 persen sampai 110,6 persen.
Ini juga akan membuat rupiah kemungkinan besar akan bermasalah lagi karena Tiongkok pasti akan melakukan penyerangan balik terhadap biaya impor tersebut yang begitu besar.
"Nah ini yang sebenarnya cukup menarik ya bagi gejolak secara eksternal yang membuat dolar menguat kemudian rupiah mengalami perlemahan," ucap Ibrahim.
Kirim Komentar
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.